Membaca karya sastra (termasuk sajak di dalamnya)
bukanlah perkara mudah. Terlebih jika teks atau bahasa yang digunakan oleh
sajak itu menggunakan diksi/terminologi yang “tidak umum” atau menggunakan
bahasa daerah (Sunda buhun) yang sebagian kosa katanya tidak lagi digunakan
sebagai bahasa komunikasi sehari-hari masyarakat hari ini.
Membaca teks puisi yang diksi dan kosa katanya
“aneh” di telinga pasti membutuhkan tidak sekedar pemahaman terhadap teks
secara keseluruhan tetapi pengetahuan terhadap arti perkata pun mutlak
diperlukan. Terlebih bagi saya yang awam dalam dunia sastra tugasnya bisa jadi
berlipat. Kesulitan maha berat itulah yang saya alami ketika harus memberikan
semacam “testimoni” pada buku “Sajak Sagara Cumarita”.
Sajak Sagara Cumarita sebagaimana dituturkan oleh
penulisnya merupakan kumpulan sajak hasil dari “Perenungan” dan “penglihatan”
terhadap alam sekeliling dan termasuk “alam bawah sadar”. Bukan tanpa konteks
jika kumpulan sajak itu dibuat. Kumpulan sajak itu dipicu oleh berbagai fenomena
yang terjadi yang ditemui penulisnya.
Sebagiannya merupakan informasi tentang
peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, sebagian yang lain merupakan
informasi atau semacam isyarat bagi manusia hari ini bagaimana seharusnya
berucap dan bertindak. Sajak Sagara Cumarita, menurut amatan saya, adalah juga
kumpulan nasihat, tuturan tentang wasiat para inohong yang hadir di masa lalu
atau petunjuk tentang arah sejarah yang terjadi di tatar Sunda.
Seumpama kisah yang “meluruskan”
kekeliruan-kekeliruan manusia hari ini dalam mengerti peristiwa-peristiwa
sejarah yang terjadi di masa lampau. Sebagai hasil dari “perenungan” dan suatu
“penglihatan” tertentu, tentu orang bisa menduga sebagai hasil subjektif
penyusunnya.
Namun jika kita bersedia membaca kumpulan sajak
ini secara sabar akan ditemui fakta bahwa ada banyak hal yang bisa kita ambil
tentang beberapa pelajaran hidup juga informasi apa saja yang pernah terjadi di
masa lampau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar