Mengucapkan
syahadat. Melafadzkan kalimat persaksian adalah kemestian. Bersaksi tentang
Allah. Bersaksi tentang Muhammad rasulullah. Dua-duanya adalah pusat dan titik
konsentrasi dari persaksian yang dilakukan.
Mustahil
seseorang disebut muslim jika alfa untuk mempersaksikan keduanya. Mustahil
seseorang disebut mukmin jika tidak mempercayai keduanya sebagai pusaran
orientasi penghambaan.
Persaksian
itu tidak hanya mengucapkan. Lisan sekadar melafdzkan "asyhadu".
Persaksian yang sebenar-benarnya persaksian adalah jumlah antara ucapan dan
tindakan. Bibir bergetar mengatakan, lalu tubuh meresfon untuk patuh. Inilah
kesadaran. Ucapan tak bermakna jika tak disempurnakan dengan tindakan. Dan
tindakan akan menjadi sia-sia jika tak dibuka dengan pernyataan.
Sudahkah
kita bersaksi dengan cara itu? Sudahkah kita mensinergikan persaksian lisan
dengan persaksian tindakan? "Bisa ora bisa akalana", begitu nadhom
menuturkan.
Dalam sholat kita bersaksi. Sehabis sholat
juga kita mengulang menegaskan persaksian itu. Ini hanya isyarat bahwa bersaksi
bukan proses sekali jadi seperti yang disangka orang. Persaksian bukanlah ucap
atau gerak yang otomatis tertancap tak berubah.
Ada
masa bahkan setiap waktu kita kerap digoda atau terseret arus untuk lupa bahwa
kita pernah mempersaksikan Allah dan rasulullah. Ada saatnya dunia dengan
pesonanya memalingkan bahkan menghisap habis kesadaran persaksian kita.
Sholat dengan begitu adalah momen yang tidak
hanya spiritual tapi juga psikologikal tentang keharusan manusia menautkan dan
menambatkan kesadarannya pada sesuatu yang mutlak benarnya. Pasti
keberadaannya. Dia lah Allah. Dia lah Muhammad rasulullah.
Pengulangan
persaksian dalam sholat juga setelah selesai sholat adalah siasat mengokohkan
kesadaran manusia yang gampang oleng oleh tipuan dan permainan kehidupan.
Bukankah hidup ini hanya "la'ibun wa lahwun" (permainan dan senda
gurau).
Resolusi persaksian dengan itu adalah
menancapkan ulang pengakuan dan penerimaan kita terhadap dua unsur pokok dalam
keberislaman dan keberimanan kita. Usaha menancapkan ulang ternyata bukan
perkara mudah. Ia hanya mungkin dan bisa dilakukan dengan tuntunan dan
bimbingan manusia yang istiqomah memiliki kesadaran persaksian. Dialah Guru.
Mursyid. Maulana. Dan kita mengenalnya dengan sebutan Syeikhuna.
Dalam keyakinan saya, Syeikhuna adalah media
dan tali penghubung yang bisa menyambungkan kesadaran persaksian itu. Syeikhuna
adalah manusia yang bisa memastikan arah persaksian yang dilakukan supaya tak
salah. Syeikhuna adalah manusia yang memiliki perhatian, kepedulian dan
kecintaan melebihi perhatian, kepedulian dan kecintaan pada dirinya sendiri.
Syeikhuna dengan sifat seperti itu haruslah
sosok yang nampak terlihat. Ada di sekitar kita. Hidup bersama kita.
Mengingatkan dan menegur secara langsung. Menuntun melalui kata dan tindakan
yang bisa didengar dan disaksikan oleh panca indera yang kita punya. Dialah
khalifah rasul zaman berzaman. Allahu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar