Senin, 31 Desember 2018

RESOLUSI PERSAKSIAN


Mengucapkan syahadat. Melafadzkan kalimat persaksian adalah kemestian. Bersaksi tentang Allah. Bersaksi tentang Muhammad rasulullah. Dua-duanya adalah pusat dan titik konsentrasi dari persaksian yang dilakukan.
Mustahil seseorang disebut muslim jika alfa untuk mempersaksikan keduanya. Mustahil seseorang disebut mukmin jika tidak mempercayai keduanya sebagai pusaran orientasi penghambaan.
Persaksian itu tidak hanya mengucapkan. Lisan sekadar melafdzkan "asyhadu". Persaksian yang sebenar-benarnya persaksian adalah jumlah antara ucapan dan tindakan. Bibir bergetar mengatakan, lalu tubuh meresfon untuk patuh. Inilah kesadaran. Ucapan tak bermakna jika tak disempurnakan dengan tindakan. Dan tindakan akan menjadi sia-sia jika tak dibuka dengan pernyataan.
Sudahkah kita bersaksi dengan cara itu? Sudahkah kita mensinergikan persaksian lisan dengan persaksian tindakan? "Bisa ora bisa akalana", begitu nadhom menuturkan.

Dalam sholat kita bersaksi. Sehabis sholat juga kita mengulang menegaskan persaksian itu. Ini hanya isyarat bahwa bersaksi bukan proses sekali jadi seperti yang disangka orang. Persaksian bukanlah ucap atau gerak yang otomatis tertancap tak berubah.
Ada masa bahkan setiap waktu kita kerap digoda atau terseret arus untuk lupa bahwa kita pernah mempersaksikan Allah dan rasulullah. Ada saatnya dunia dengan pesonanya memalingkan bahkan menghisap habis kesadaran persaksian kita.
Sholat dengan begitu adalah momen yang tidak hanya spiritual tapi juga psikologikal tentang keharusan manusia menautkan dan menambatkan kesadarannya pada sesuatu yang mutlak benarnya. Pasti keberadaannya. Dia lah Allah. Dia lah Muhammad rasulullah.
Pengulangan persaksian dalam sholat juga setelah selesai sholat adalah siasat mengokohkan kesadaran manusia yang gampang oleng oleh tipuan dan permainan kehidupan. Bukankah hidup ini hanya "la'ibun wa lahwun" (permainan dan senda gurau).
Resolusi persaksian dengan itu adalah menancapkan ulang pengakuan dan penerimaan kita terhadap dua unsur pokok dalam keberislaman dan keberimanan kita. Usaha menancapkan ulang ternyata bukan perkara mudah. Ia hanya mungkin dan bisa dilakukan dengan tuntunan dan bimbingan manusia yang istiqomah memiliki kesadaran persaksian. Dialah Guru. Mursyid. Maulana. Dan kita mengenalnya dengan sebutan Syeikhuna.
Dalam keyakinan saya, Syeikhuna adalah media dan tali penghubung yang bisa menyambungkan kesadaran persaksian itu. Syeikhuna adalah manusia yang bisa memastikan arah persaksian yang dilakukan supaya tak salah. Syeikhuna adalah manusia yang memiliki perhatian, kepedulian dan kecintaan melebihi perhatian, kepedulian dan kecintaan pada dirinya sendiri.
Syeikhuna dengan sifat seperti itu haruslah sosok yang nampak terlihat. Ada di sekitar kita. Hidup bersama kita. Mengingatkan dan menegur secara langsung. Menuntun melalui kata dan tindakan yang bisa didengar dan disaksikan oleh panca indera yang kita punya. Dialah khalifah rasul zaman berzaman. Allahu a'lam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...