Kamis, 06 Desember 2018

ENERGI TOTAL DAN TAHLIL 2

Catatan ini sambungan dari ENERGI TOTAL DAN TAHLIL
2. Energi Total dalam Tahlil
Tahlil dapat mengantarkan manusia pada energy total karena tahlil menyadarikan manusia mengenai dirinya sebagaimana adanya dan Allah sebagaimana adanya. Begitu melakukan operasi kesadaran “tidak kepada ilah” (La Ilaha) dan “Iya kepada Allah” (Illallah) maka manusia akan menyadari dirinya sebagaimana adanya dan Allah sebagaimana adanya.
Jati diri manusia tergantung pada pemahamannya akan Allah. Manusia yang kesadarannya bercabang banyak, meyakini banyak tuhan, niscaya jiwanya terbelah dan perilakunya terpenggal-penggal. Sebaliknya, Tauhid yang menegaskan harus hanya pada Allah yang Ahad akan membuat manusia utuh, nyaman, dan menjadi dirinya sebagaimana adanya.
Tahlil atau Lailahaillalah tidak hanya menjadi isi kesadaran, tapi harus diucapkan. Jadi tidak hanya jadi energy internal melainkan menjadi energy eksternal. Ini berarti Tahlil adalah Energi Kinetik sekaligus Energi Dinamik. Pada Tahlil terdapat konsep gravitasi bawah dan gravitasi langit, ilah adalah bawah Allah adalah langit, thagut adalah bawah dan Allah adalah langit, seperti pada firman Allah “Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. al-Baqoroh: 256).

Kalimat ‘la ilaha illallah’ adalah amal yang paling utama, paling banyak ganjarannya, menyamai pahala memerdekakan budak dan merupakan pelindung dari gangguan setan. Sebagaimana terdapat dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ‘la ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syay-in qodiir’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian.
Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen.), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.” (H.r. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 7018).
Betapa besarnya energy yang dihasilkan tahlil, sampai-sampai mengucapkannya saja setara dengan tindakan-tindakan eksternal seperti pahala memerdekakan budak. Begitu tahlil diucapkan penyumbat energy potensial terhapuskan: akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya.
Pada hadits lain dikemukakan bahwa kalimat “la ilaha illallah” adalah kunci 8 pintu surga, orang yang mengucapkannya bisa masuk lewat pintu mana saja yang dia sukai. Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengucapkan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata.
Tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (H.r. Muslim no. 149). Memasuki surge dari pintu mana saja yang dikehendaki berarti memiliki surga secara utuh, menjadi pemilik surga. Kuncinya adalah Lailahaillalah.
Refleksi
​Energy total berarti energy keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh kita. Para sufi menyatakan bahwa “yang di dalam sama dengan yang di luar”, jagad cilik sama dengan jagad besar, makrokosmos sama dengan mikrokosmos, dan ungkapan lainnya. Semua itu menunjukkan ketotalan energy dari pencapaian spiritualitas tertinggi. Itu semua dihasilkan oleh tahlil, Lailahaillallah.
Maka bertahlillah. Walaupun demikian, ajaran Islam tak berhenti pada tahlil. Ada terusannya. Terusannya disimbolkan pada kalimat La Hawla Wala Quwwata Illa Billah. Setelah hanya Allah, selanjutnya mengalirkan kekuatan Billah (bersama Allah) untuk melakukan perubahan kehidupan ini. 
Islam tak mengajarkan kemenangan pribadi, melainkan kemenangan social, bahkan kemenangan seluruh ummat manusia. Keempat kuadran ini (tasybih, tahmid, takbir, dan tahlil) adalah pengantar agar kita menjadi penyebar Cinta Kasih dan Kebahagiaan bagi seluruh umat manusia dan alam semesta ini.

By : Sayyid Gamal Yahya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...