Catatan ini sambungan dari ENERGI TOTAL DAN TAHLIL
2. Energi Total
dalam Tahlil
Tahlil dapat
mengantarkan manusia pada energy total karena tahlil menyadarikan manusia
mengenai dirinya sebagaimana adanya dan Allah sebagaimana adanya. Begitu
melakukan operasi kesadaran “tidak kepada ilah” (La Ilaha) dan “Iya kepada
Allah” (Illallah) maka manusia akan menyadari dirinya sebagaimana adanya dan
Allah sebagaimana adanya.
Jati diri
manusia tergantung pada pemahamannya akan Allah. Manusia yang kesadarannya
bercabang banyak, meyakini banyak tuhan, niscaya jiwanya terbelah dan
perilakunya terpenggal-penggal. Sebaliknya, Tauhid yang menegaskan harus hanya
pada Allah yang Ahad akan membuat manusia utuh, nyaman, dan menjadi dirinya
sebagaimana adanya.
Tahlil atau
Lailahaillalah tidak hanya menjadi isi kesadaran, tapi harus diucapkan. Jadi
tidak hanya jadi energy internal melainkan menjadi energy eksternal. Ini
berarti Tahlil adalah Energi Kinetik sekaligus Energi Dinamik. Pada Tahlil
terdapat konsep gravitasi bawah dan gravitasi langit, ilah adalah bawah Allah
adalah langit, thagut adalah bawah dan Allah adalah langit, seperti pada firman
Allah “Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka
sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak
akan putus.” (QS. al-Baqoroh: 256).
Kalimat ‘la
ilaha illallah’ adalah amal yang paling utama, paling banyak ganjarannya,
menyamai pahala memerdekakan budak dan merupakan pelindung dari gangguan setan.
Sebagaimana terdapat dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa mengucapkan
‘la ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa
‘ala kulli syay-in qodiir’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan
benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala
pujian.
Dia-lah yang
Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya
sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen.), dicatat baginya 100
kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan
pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya
kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.” (H.r. Bukhari no. 3293
dan Muslim no. 7018).
Betapa besarnya
energy yang dihasilkan tahlil, sampai-sampai mengucapkannya saja setara dengan
tindakan-tindakan eksternal seperti pahala memerdekakan budak. Begitu tahlil
diucapkan penyumbat energy potensial terhapuskan: akan terlindung dari setan pada
siang hingga sore harinya.
Pada hadits
lain dikemukakan bahwa kalimat “la ilaha illallah” adalah kunci 8 pintu surga,
orang yang mengucapkannya bisa masuk lewat pintu mana saja yang dia sukai. Dari
‘Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Barang siapa mengucapkan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata.
Tidak ada
sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa
‘Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang
disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga
adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan
memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia
kehendaki.” (H.r. Muslim no. 149). Memasuki surge dari pintu mana saja yang
dikehendaki berarti memiliki surga secara utuh, menjadi pemilik surga. Kuncinya
adalah Lailahaillalah.
Refleksi
Energy total berarti energy keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh kita. Para sufi menyatakan bahwa “yang di dalam sama dengan yang di luar”, jagad cilik sama dengan jagad besar, makrokosmos sama dengan mikrokosmos, dan ungkapan lainnya. Semua itu menunjukkan ketotalan energy dari pencapaian spiritualitas tertinggi. Itu semua dihasilkan oleh tahlil, Lailahaillallah.
Energy total berarti energy keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh kita. Para sufi menyatakan bahwa “yang di dalam sama dengan yang di luar”, jagad cilik sama dengan jagad besar, makrokosmos sama dengan mikrokosmos, dan ungkapan lainnya. Semua itu menunjukkan ketotalan energy dari pencapaian spiritualitas tertinggi. Itu semua dihasilkan oleh tahlil, Lailahaillallah.
Maka
bertahlillah. Walaupun demikian, ajaran Islam tak berhenti pada tahlil. Ada
terusannya. Terusannya disimbolkan pada kalimat La Hawla Wala Quwwata Illa
Billah. Setelah hanya Allah, selanjutnya mengalirkan kekuatan Billah (bersama
Allah) untuk melakukan perubahan kehidupan ini.
Islam tak mengajarkan kemenangan pribadi, melainkan kemenangan social,
bahkan kemenangan seluruh ummat manusia. Keempat kuadran ini (tasybih, tahmid,
takbir, dan tahlil) adalah pengantar agar kita menjadi penyebar Cinta Kasih dan
Kebahagiaan bagi seluruh umat manusia dan alam semesta ini.
By : Sayyid Gamal Yahya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar