PERJALANAN HIDUPNYA
Syarifah
Fatimah Gandasari atau umum sering menyebutnya Nyimas Ratu Gandasari, sebuah
nama yang tidak asing di telinga para praktisi spritual dan juga pengamat
sejarah khususnya pengamat sejarah tanah jawa. Pemilik nama ini juga sangat berperan
penting dalam sejarah perkembangan Islam di tataran tanah jawa. Sebuah nama
yang indah nan cantik, se cantik dan se indah pemilikinya. Namanya juga sering
disebut oleh pengikut torekat Asy-Syahadatain. Torekat yang didirikan tahun
1951 di daerah Cirebon oleh Syehunal Mukarom Sayyid Umar Bin Ismail Bin Yahya.
Beliau Terlahir di
lingkungan kesultanan Pasai dengan nama Fatimah atau Syarifah Fatimah dari ibu
Syarifah Siti Mutmainah/Musalimah binti Maulana Ishak dan Ayah Mahdar Ibrahim bin
Abdul Ghofur.
Syarifah merupakan anak
kedua setelah Fatahilah dari ayahnya yang terkenal sangat alim dan menguasai
ilmu-ilmu agama antara lain, ilmu alat ( nahwu, shorof dan balaghoh ), Fiqih,
Usul Fiqih, Tafsir, Hadits dan juga Tasawuf, makanya ayahnya yaitu sultan Mahdar
Ibrahim juga diberi gelar Sayyid Kamil. Sultan Mahdar Ibrahim juga dikenal sebagai penerjemah
kitab “Daroil Mazlum” karya Muhammad Ishak, seorang ulama Mekah, penerjemahan
ini atas permintaan Sultan Mahmud Syah dari kesultanan Malaka.
Akan tetapi walau terlahir di lingkungan
kesultanan Pasai, masa kanak-kanak Fatimah hingga akhir dihabiskan di tanah
jawa khususnya daerah kasepuhan Cirebon. Beliau memperoleh pendidikan ilmu
kanuragan. Salah satu ilmu yang diampunya yaitu halimunan, macalaputra mancalaputri
(nyamar) dan ilmu khuhus lainnya yang diberikan oleh Mbah Kuwu Sangkan atau
pangeran cakrabuana nama mudanya Walangsungsang yang merupakan ayah angkat dari
syarifah.
Karena hidup dalam lingkungan kerajaan maka
tidak aneh kalau syarifah masagi juga dari
ilmu militer karena merupakan murid terkasih dari Sunan Gunung Jati, terutama
kemiliteran angkatan darat syarifah sangatlah mahir, terutama dari strategi dan
menghitung kekuatan serta bisa menghimpun satu kekuatan pasukannya di sarang
musuh tanpa di ketahui si musuh itu sendiri. Syarifah mengepalai pasukan
cirebon kedudukan yang diberikan oleh sinuhun sunan gunung jati, yaitu sebagai
komadan dari pasukan kerajan Pakungwati atau disebut kesepuhan cirebon, hingga
mendapat gelar Nyimas Ratu Gandasari.
Disamping segala kesaktian dan kecantikannya,
sebagai anak dari ulama besar Syarifah juga memperoleh pendidikan ilmu-ilmu
agama yang mumpuni sehingga dengan berbagai jenis ilmu agama yang dikuasai
hingga tidaklah heran kalau menempati kedudukan yang terhormat.
Dari ilmu kemiliteran syarifah diangkat
sebagai panglima pasukan kerajaan cirebon, dan dari ilmu agama kedudukanya
sebagai anggota waliyullah bersama-sama dengan gurunya Sunan Gunung Jati.
Saat usia kurang lebih 3 tahun syarifah sudah
meninggalkan pasai, kesempatan itu datang pada saat kunjungan sinuhunan Sunan
Gunung Jati ke kerajaan Pasai setelah sinuhun menamatkan ilmu toreqat Anfunsyiah
dari Syaikh Datuk Muhammad Sidiq. Belajar tentang gimana menjalani hidup
dengan zuhud, sabar dan tawakal selamanya kepada Allah SWT., sebelum kepulangannnya ke
pulau jawa beliau mampir ke kerajan dengan tujuan silaturahmi karena sinuhun
masih kerabatan dengan Sultan Mahdr Ibrohim, kakek dari Sinuhun merupkan kakek
buyut dari sultan Mahdr Ibrohim. Sunan
Gunung Jati (Sunan Gunung Jati putra dari Syarif Abdullah ibn Ali Nurul Alam /
Maulana Israil. Ali Nurul Alam atau Kakek buyut Sunan Gunung Jati ini adalah
saudara kandung dari Zainul Alam Barokat yang kakek buyut sultan mahdar
Ibrohim.
Dengan adanya kunjungan tersebut akhirnya
Syarifah dibawa oleh Sunan gunung jati, itu juga dengan berbagai alasan salah
satu alasannya dikarena adanya rencana protugis menyerang pasai karena pada
saat itu protugis sudah menguasai malaka yang berencana akan menyerang pasai,
dan juga agar lebih dekat dengan kakaknya syarifah yaitu fatahilah yang
sudah lama diangkat menjadi panglima militer angkatan laut ditanah jawa setelah
kepulangan dari sebrang.
Apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi yaitu
pasai dikuasai protugis setelah pemberangkatan sinuhun dan syarifah ke tanah
jawa tepat dalam sejarah tahun 1513 protugis menguasai pasai 10 tahun setelah
hijrahnya Syarifah ke tanah jawa.
Pada tahun 1519 usianya sekitar 19 tahun, iya
juga sudah bahu membahu membantu kakaknya fatahilah menyerang Protugis ke
malaka. Kehadiran Syarifah membuat hati sang kakak bangga apalagi dengan
kesaktian dan kecantikan adiknya itu. Serangan ini merupakan serangan
besar-besaran, karena menggunakan sekitar kurang lebih 400 kapal dan dibantu
prajurit gabungan dari 3 kerajaan, sehingga membuat cemas Portugis, akan tetapi
sialnya, perang baru beberapa hari ada peluru yang nyasar menghantam Kapal yang
mengakibatkan gugurnya Pati Unus (Pengganti Raden Fatah).
Maka untuk menghindari kehancuran total kakaknya
segera mengambil alih pimpinan pasukan dan menarik mundur kembali ke pulau Jawa.
Kegagalan dari penyerangan besar-besaran ini membuat petinggi tiga kesultanan
dan para Wali berfikir, yang akhirnya guru dari syarifah memberi saran (Sunan
Gunung Jati) dengan memancing Portugis keluar dari Malaka.
Secara kebetulan pada saat
itu Kerajaan Pajajaran telah mengundang Portugis untuk membuat Benteng di Sunda
Kelapa yang merupakan satu-satunya pelabuhan milik kerajaan Pajajaran yang
tersisa setelah Cirebon dan Banten menjadi kerajaan Islam.
Kehadiran Armada Portugis ini telah ditungu-tunggu oleh pasukan gabungan dari 3
kerajaan. Pada akhirnya pasukan Portugis
berhasil diluluhlantakkan pada tahun 1527 M.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar