Senin, 03 Desember 2018

PERJALANAN HIDUP NYI MAS GANDASARI

PERJALANAN HIDUPNYA
Syarifah Fatimah Gandasari atau umum sering menyebutnya Nyimas Ratu Gandasari, sebuah nama yang tidak asing di telinga para praktisi spritual dan juga pengamat sejarah khususnya pengamat sejarah tanah jawa. Pemilik nama ini juga sangat berperan penting dalam sejarah perkembangan Islam di tataran tanah jawa. Sebuah nama yang indah nan cantik, se cantik dan se indah pemilikinya. Namanya juga sering disebut oleh pengikut torekat Asy-Syahadatain. Torekat yang didirikan tahun 1951 di daerah Cirebon oleh Syehunal Mukarom Sayyid Umar Bin Ismail Bin Yahya.
Beliau Terlahir di lingkungan kesultanan Pasai dengan nama Fatimah atau Syarifah Fatimah dari ibu Syarifah Siti Mutmainah/Musalimah binti Maulana Ishak dan Ayah Mahdar Ibrahim bin Abdul Ghofur.
Syarifah merupakan anak kedua setelah Fatahilah dari ayahnya yang terkenal sangat alim dan menguasai ilmu-ilmu agama antara lain, ilmu alat ( nahwu, shorof dan balaghoh ), Fiqih, Usul Fiqih, Tafsir, Hadits dan juga Tasawuf, makanya ayahnya yaitu sultan Mahdar Ibrahim juga diberi gelar Sayyid Kamil. Sultan Mahdar Ibrahim juga dikenal sebagai penerjemah kitab “Daroil Mazlum” karya Muhammad Ishak, seorang ulama Mekah, penerjemahan ini atas permintaan Sultan Mahmud Syah dari kesultanan Malaka.

Akan tetapi walau terlahir di lingkungan kesultanan Pasai, masa kanak-kanak Fatimah hingga akhir dihabiskan di tanah jawa khususnya daerah kasepuhan Cirebon. Beliau memperoleh pendidikan ilmu kanuragan. Salah satu ilmu yang diampunya yaitu halimunan, macalaputra mancalaputri (nyamar) dan ilmu khuhus lainnya yang diberikan oleh Mbah Kuwu Sangkan atau pangeran cakrabuana nama mudanya Walangsungsang yang merupakan ayah angkat dari syarifah.
Karena hidup dalam lingkungan kerajaan maka tidak aneh  kalau syarifah masagi juga dari ilmu militer karena merupakan murid terkasih dari Sunan Gunung Jati, terutama kemiliteran angkatan darat syarifah sangatlah mahir, terutama dari strategi dan menghitung kekuatan serta bisa menghimpun satu kekuatan pasukannya di sarang musuh tanpa di ketahui si musuh itu sendiri. Syarifah mengepalai pasukan cirebon kedudukan yang diberikan oleh sinuhun sunan gunung jati, yaitu sebagai komadan dari pasukan kerajan Pakungwati atau disebut kesepuhan cirebon, hingga mendapat gelar Nyimas Ratu Gandasari. 
Disamping segala kesaktian dan kecantikannya, sebagai anak dari ulama besar Syarifah juga memperoleh pendidikan ilmu-ilmu agama yang mumpuni sehingga dengan berbagai jenis ilmu agama yang dikuasai hingga tidaklah heran kalau menempati kedudukan yang terhormat.
Dari ilmu kemiliteran syarifah diangkat sebagai panglima pasukan kerajaan cirebon, dan dari ilmu agama kedudukanya sebagai anggota waliyullah bersama-sama dengan gurunya Sunan Gunung Jati.
Saat usia kurang lebih 3 tahun syarifah sudah meninggalkan pasai, kesempatan itu datang pada saat kunjungan sinuhunan Sunan Gunung Jati ke kerajaan Pasai setelah sinuhun menamatkan ilmu toreqat Anfunsyiah dari Syaikh Datuk Muhammad Sidiq. Belajar tentang gimana menjalani hidup dengan zuhud, sabar dan tawakal selamanya kepada Allah SWT., sebelum kepulangannnya ke pulau jawa beliau mampir ke kerajan dengan tujuan silaturahmi karena sinuhun masih kerabatan dengan Sultan Mahdr Ibrohim, kakek dari Sinuhun merupkan kakek buyut dari sultan Mahdr Ibrohim. Sunan Gunung Jati (Sunan Gunung Jati putra dari Syarif Abdullah ibn Ali Nurul Alam / Maulana Israil. Ali Nurul Alam atau Kakek buyut Sunan Gunung Jati ini adalah saudara kandung dari Zainul Alam Barokat yang kakek buyut sultan mahdar Ibrohim.
Dengan adanya kunjungan tersebut akhirnya Syarifah dibawa oleh Sunan gunung jati, itu juga dengan berbagai alasan salah satu alasannya dikarena adanya rencana protugis menyerang pasai karena pada saat itu protugis sudah menguasai malaka yang berencana akan menyerang pasai, dan juga agar lebih dekat dengan kakaknya syarifah yaitu fatahilah yang sudah lama diangkat menjadi panglima militer angkatan laut ditanah jawa setelah kepulangan dari sebrang.
Apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi yaitu pasai dikuasai protugis setelah pemberangkatan sinuhun dan syarifah ke tanah jawa tepat dalam sejarah tahun 1513 protugis menguasai pasai 10 tahun setelah hijrahnya Syarifah ke tanah jawa.
Pada tahun 1519 usianya sekitar 19 tahun, iya juga sudah bahu membahu membantu kakaknya fatahilah menyerang Protugis ke malaka. Kehadiran Syarifah membuat hati sang kakak bangga apalagi dengan kesaktian dan kecantikan adiknya itu. Serangan ini merupakan serangan besar-besaran, karena menggunakan sekitar kurang lebih 400 kapal dan dibantu prajurit gabungan dari 3 kerajaan, sehingga membuat cemas Portugis, akan tetapi sialnya, perang baru beberapa hari ada peluru yang nyasar menghantam Kapal yang mengakibatkan gugurnya Pati Unus (Pengganti Raden Fatah).
Maka untuk menghindari kehancuran total kakaknya segera mengambil alih pimpinan pasukan dan menarik mundur kembali ke pulau Jawa. Kegagalan dari penyerangan besar-besaran ini membuat petinggi tiga kesultanan dan para Wali berfikir,  yang akhirnya guru dari syarifah memberi saran (Sunan Gunung Jati) dengan memancing Portugis keluar dari Malaka.
Secara kebetulan pada saat itu Kerajaan Pajajaran telah mengundang Portugis untuk membuat Benteng di Sunda Kelapa yang merupakan satu-satunya pelabuhan milik kerajaan Pajajaran yang tersisa setelah Cirebon dan Banten menjadi kerajaan Islam.
Kehadiran Armada Portugis ini telah ditungu-tunggu oleh pasukan gabungan dari 3 kerajaan.  Pada akhirnya pasukan Portugis berhasil diluluhlantakkan pada tahun 1527 M. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...