Toleransi itu gampang diucapkan tapi
sulit diwujudkan. Bersikap toleran atau memiliki dada yang lapang tak semudah
membalikan tangan. Apa yang terjadi di Jogjakarta, hanyalah contoh betapa
kelapangan dada menjadi perkara yang susah untuk dilakukan.
Kita sadar bahwa kita berbeda. Apakah
rambutnya, matanya, kulitnya, bahkan keyakinannya. Faktanya, kesadaran terhadap
keberbedaan itu tak serta merta berefek untuk
berlaku adil terhadap yang berbeda dengan kita menjadi setara dalam hak-haknya.
Setara mendapatkan apa yang menjadi keharusan miliknya.
Intoleran, bagaimana muasalnya ia muncul?
Intoleran, bagaimana muasalnya ia muncul?
Rupanya,
kita masih mempercayai jumlah sebagai ukuran. Melekatkan bahkan meneguhkan
identitas pada pertimbangan kuantitas bukan pada kualitas. Hanya karena
mayoritas kita lalu berkesimpulan bahwa yang banyak harus beroleh keistimewaan.
Surplus fasilitas, penghargaan dan dinomorsatukan. Yang mayoritas tak boleh
disumbat hasratnya, terlarang dihalangi kepentingannya. Yang mayoritas adalah
cermin, ukuran bahkan norma.
Komunikasi
yang dibangun dengan minoritas adalah dominasi dan hasrat menguasai.
Menertibkan papan nisan hanya karena bentuknya menyerupai "T" itulah
dominasi. Perayaan natal dilarang berlebihan itulah hasrat menguasai.
Berbeda juga
tak sama apakah ia disebabkan karena jumlah tak semestinya membuat kita berlaku
tak adil. Merasa paling istimewa. Merasa harus diutamakan. Terlebih, harus
menjadi standar ukuran. Toleransi hanya mungkin muncul terutama jika yang
mayoritas menempatkan yang beda sebagai "primus interpares". Sejajar.
Setara dalam hak dan kewajiban. Tak ada istilah melindungi. Sebab frasa
melindungi menyiratkan pengertian masih adanya dominasi yang banyak terhadap
yang sedikit.
Toleransi
adalah "perjumpaan agung" antar wajah yang beda dan tak sama. Yang
beda dan tak sama tak disikapi dengan ketakutan. Toleransi mustahil muncul jika
masih ada sikap takut terhadap yang lain (heterofobia).
Toleransi
terutama jika ia diteguhkan oleh dialoh dan komunikasi adalah siasat mengenal
diri yang mustahil ditemukan secara langsung. Pengenalan terhadap diri selalu
mengandaikan media atau perantara. Itulah Engkau. "I require a you to
become, becoming I, I say you" (aku membutuhkan engkau untuk menjadi,
sambil menjadi aku, aku berkata engkau). Begitu menurut Martin Buber.
By : De ALso Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar