Minggu, 23 Desember 2018

TOLERANSI BERAGAMA


Toleransi itu gampang diucapkan tapi sulit diwujudkan. Bersikap toleran atau memiliki dada yang lapang tak semudah membalikan tangan. Apa yang terjadi di Jogjakarta, hanyalah contoh betapa kelapangan dada menjadi perkara yang susah untuk dilakukan. 
Kita sadar bahwa kita berbeda. Apakah rambutnya, matanya, kulitnya, bahkan keyakinannya. Faktanya, kesadaran terhadap keberbedaan itu tak serta merta berefek untuk berlaku adil terhadap yang berbeda dengan kita menjadi setara dalam hak-haknya. Setara mendapatkan apa yang menjadi keharusan miliknya. 

Intoleran, bagaimana muasalnya ia muncul? 

Rupanya, kita masih mempercayai jumlah sebagai ukuran. Melekatkan bahkan meneguhkan identitas pada pertimbangan kuantitas bukan pada kualitas. Hanya karena mayoritas kita lalu berkesimpulan bahwa yang banyak harus beroleh keistimewaan. Surplus fasilitas, penghargaan dan dinomorsatukan. Yang mayoritas tak boleh disumbat hasratnya, terlarang dihalangi kepentingannya. Yang mayoritas adalah cermin, ukuran bahkan norma. 
Komunikasi yang dibangun dengan minoritas adalah dominasi dan hasrat menguasai. Menertibkan papan nisan hanya karena bentuknya menyerupai "T" itulah dominasi. Perayaan natal dilarang berlebihan itulah hasrat menguasai. 
Berbeda juga tak sama apakah ia disebabkan karena jumlah tak semestinya membuat kita berlaku tak adil. Merasa paling istimewa. Merasa harus diutamakan. Terlebih, harus menjadi standar ukuran. Toleransi hanya mungkin muncul terutama jika yang mayoritas menempatkan yang beda sebagai "primus interpares". Sejajar. Setara dalam hak dan kewajiban. Tak ada istilah melindungi. Sebab frasa melindungi menyiratkan pengertian masih adanya dominasi yang banyak terhadap yang sedikit. 
Toleransi adalah "perjumpaan agung" antar wajah yang beda dan tak sama. Yang beda dan tak sama tak disikapi dengan ketakutan. Toleransi mustahil muncul jika masih ada sikap takut terhadap yang lain (heterofobia). 
Toleransi terutama jika ia diteguhkan oleh dialoh dan komunikasi adalah siasat mengenal diri yang mustahil ditemukan secara langsung. Pengenalan terhadap diri selalu mengandaikan media atau perantara. Itulah Engkau. "I require a you to become, becoming I, I say you" (aku membutuhkan engkau untuk menjadi, sambil menjadi aku, aku berkata engkau). Begitu menurut Martin Buber.

By : De ALso Layang Kusumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...