Mengucapkan
syahadat. Melafadzkan kalimat persaksian adalah kemestian. Bersaksi tentang
Allah. Bersaksi tentang Muhammad rasulullah. Dua-duanya adalah pusat dan titik
konsentrasi dari persaksian yang dilakukan.
Mustahil
seseorang disebut muslim jika alfa untuk mempersaksikan keduanya. Mustahil
seseorang disebut mukmin jika tidak mempercayai keduanya sebagai pusaran
orientasi penghambaan.
Persaksian
itu tidak hanya mengucapkan. Lisan sekadar melafdzkan "asyhadu".
Persaksian yang sebenar-benarnya persaksian adalah jumlah antara ucapan dan
tindakan. Bibir bergetar mengatakan, lalu tubuh meresfon untuk patuh. Inilah
kesadaran. Ucapan tak bermakna jika tak disempurnakan dengan tindakan. Dan
tindakan akan menjadi sia-sia jika tak dibuka dengan pernyataan.
Sudahkah
kita bersaksi dengan cara itu? Sudahkah kita mensinergikan persaksian lisan
dengan persaksian tindakan? "Bisa ora bisa akalana", begitu nadhom
menuturkan.