Rabu, 25 Juli 2018

BERSATU JADI TEGUH

"Ayo batur gage kumpul jadi siji yen kepengen jadi umat kanjeng nabi"
Tuturun Guru di atas adalah seruan juga ajakan. Guru menyeru supaya umat ini berhimpun dalam satu shaf yang satu. Guru mengajak supaya umat ini menjadi umatan wahidatan yang meneguhkan diri menjadi pionir dalam kebersamaan dan kekompakan yang menyeru dan mengajak amar makruf dan nahyi munkar.
Umat kanjeng nabi tak mungkin bercerai berai. Umat kanjeng nabi mustahil mengambil posisi masing-masing. Umat kanjeng nabi berdiri kompak memegang panji misi dan bendera cita-cita yang sama. Umat kanjeng nabi memegang teguh isyarat al-Qur'an tentang keharusan berpegang teguh pada tali Allah:
واعتصموا بحبل الله جميعا ًولا تفرقوا. . . .
Dalam kerangka Asy-Syahadatain, "tali Allah" (حبل الله ) itu adalah tuntunan yang benihnya telah disemai secara purna oleh Sayyid Umar bin Ismail bin Yahya sebagai faunding father. Pemahaman yang utuh disertai kepatuhan kepada tuntunan itu memustahilkan umat Asy-Syahadatain untuk berdiri masing-masing, bertafarruq dan tak mau bersatu.

Penerjemahan konkrit dari kekompakan dan kebersatuan itu adalah "ragem" (bareng-bareng) dalam hal ibadah. Apakah itu ibadah "mahdoh" ataupun ibadah yang "ghoir mahdoh". Ibadah mahdoh mencakup wilayah ritual dalam dimensi vertikal (حبل من الله ) yang telah jelas tuntunannya. Sedang ibadah ghoir mahdoh meliputi ibadah sosial dalam konteks dimensi horizontal (حبل من الناس) dengan sesama manusia lainnya.
Ragem dalam ibadah yang mencakup dua jenis ibadah tadi, sejatinya merupakan implementasi nyata tentang toriqoh Asy-Syahadatain. Umat ini memiliki jalan dan cara khusus yang ditempuh. Umat ini sepanjang ada yang menuntun tak mungkin menyimpang berbelok arah dari haluan yang telah diteguhkan titik berangkatnya oleh Guru terdahulu.
Seiring dengan perkembangan zaman. Bersama dengan perubahan kehidupan yang tak bisa dielakkan, terutama dalam ibadah ghoir mahdoh tariqoh Asy-Syahadatain harus sigap meresfon situasi dan kondisi ruang dan waktu yang terus berubah. Perubahan zaman menuntut kebaruan. Pergeseran kehidupan menuntut umat untuk cerdas memahami apa yang terjadi. Cerdas menangkap isyarat zaman. Bersikukuh dengan cara lama. Merasa betah dan tak mau berubah dengan pola terdahulu akan menyebabkan Asy-Syahadatain ketinggalan, tergerus bahkan tergilas oleh roda zaman.
Guru menuntun kebaruan pemahaman terhadap toriqoh itu muncul dalam tiga level yang berbeda: toriqoh bernegara, toriqoh beragama dan toriqoh pengabdian terhadap umat dan rakyat. Allahu a'lam

De Aso Layang Kusumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...