Berbalut hujan yang tak lekas meninggalkan gigil, aku menyapa ingatan malam ini.
Menziarahi setiap jamuan dengan do’a dan harapan.
Membayangkan kehadiran sebuah nama yang tak surut lekang.
Pada saatnya, kita seperti diburu oleh hasrat kehidupan.
Dikejar oleh setiap napas yang menjalar.
Seperti kau tahu, kita dipertemukan oleh sejarah.
Disatukan oleh hukum kehidupan yang mengolah suka menjadi cinta.
Dihunus takdir untuk memelihara mimpi dan sisa gelora Adam terhadap Hawa.
Persaksianku: Kau melintas di setiap jejakku dengan banyak isyarat.
Kau menyebutku dengan panggilan yang tak berbilang.
Kau membukakan katup mulutku dan aku tak lagi bisu.
Kau yang menghidupkan ingatan pada banyak hal yang hampir mustahil.
Kau yang menghitung luka dan kita bersama meredamnya.
Kau yang setiap pagi menghadiahi hangat dari mentari.
Kau yang cekatan menyulap duka menjadi tawa.
Dan kau yang menjadi alasan untuk sejumlah kemungkinan yang kerap kita tadaruskan.
Hanya berterimakasih kepadamu.
Untuk segala mimpi yang belum kita petik seluruhnya.
Untuk setiap bahagia yang kerap mengendus nyata dalam duka yang tak bosan menggoda.
Untuk setiap senyum yang mengintip di balik kemarahan.
Untuk segala hal yang jadi penentu kebersamaan.
Maka, aku berterimakasih kepadamu, saja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar