Apakah yang diketahui bunga tentang hujan?
Pertanyaan ini kudapati ketika air tumpah dari langit di suatu sore.
Aku menemukannya tak sengaja, seperti angin menyisir kulit begitu saja dan menyapa sepoi belakang telinga.
Apakah bunga persis tahu bahwa hujan akan turun ketika mendung di langit tampak tersusun?
Perkara ini kutemui ketika ketaksengajaan beralih rupa menjadi isyarat.
Aku hanya sedang memungut tanda-tandanya.
Mengumpulkan serpihan keyakinan dari jejak hidup yang akhir-akhir ini menghampiriku.
Ah, soal seperti ini seperti tak henti menjadi labirin tak berujung.
Menjadi muasal gelisah yang tak bisa dianggap sepele.
Tapi dengan itu, aku seolah tiba di suatu stasi berlimpah energi.
Ada gemuruh semangat yang tepinya tak berbagi.
Ada kesungguhan untuk menundukkan sejumlah kemustahilan sekalipun mungkin hasilnya tak seukuran dengan apa yang dibayangkan.
Aku hanya ingin menantangnya berlaga dengan hunus keberanian tanpa senjata.
Apakah bunga juga tahu seberapa deras hujan tumpah menjadi genang di kebun, menjadi bah di sungai dan kabung kematian bagi nyawa yang ditenggelamkan?
Ketaksengajaan ini telah mengepungku.
Sihir juga mantranya seolah menyatu dengan segenap kesadaranku.
Seolah tak ada jarak. Ya, aku telah ditelan oleh situasi ketakberjarakan.
Seolah tenggelam, aku dan air menyatu dalam keberadaan, dalam situasi terpilin satu dan seukuran. Yang sempat kupikirkan hanyalah bagaimana mengelola ketaksengajaan itu menjadi simpul eksistensi ada-ku, mungkin.
Saat ini aku hanya sedang membuktikan suatu mantra, bahwa seorang menjadi karena pilihan. Karena kebebasan, bukan karena ia selesai sekali dirumuskan. Mungkin
Apakah bunga juga tahu tentang cemasnya ibu muda menunggu kering pakaian anaknya?
De ALso Layang Kusumah
Baca Juga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar