Penantian yang menegangkan (Bagian 4)
Bandung kota asri, keindahannya
tidak dapat di lukiskan, di kota bandunglah kami Komunitas Spritual Ulin
Karuhun yang berada dan terlahir dari salah satu torekat yang ada di cirebon
dalam asuhan Dr. Bambang Qumaruzzaman,
M.Ag dan sebagai pengasuh spritualnya yaitu Drs. Ahmad Gibson Al-Busthomi, M.Ag. Kami didik khusus untuk
mendalami spiritual, untuk masuk di wilayah alam dan pengobatan, guna untuk
kesinambungan antara manusia dan alamnya.
Kembali pada cerita yang kemarin
terpotong kisah yang merupakan kelanjutan dari membantu melepaskan pertalian
janji yang menawa ruh seorang ponakan teman penulis dan teman dalam tim
mendapat amanah untuk mengobatin penyakitnya.
Setelah kepulangan kami dari
perjalanan Gunung Kunci dan dayeuh luhur, kami mengadakan diskusi, untuk persiapan
selanjutnya menangani keponakan dari teman penulis, dan berakhir dengan
kesepakatan menunggu kabar dari pihak dayeuh luhur.
Tepat dua hari sebelum hari rabu
5 juli 2018, setelah kepulangan dari gunung kunci dan dayeuh luhur dengan grup
kami mendapat tulisan WA, yang berisikan minta dari pihak keluarganya memaksa
untuk mengajak pulang ruh keponakan dari teman penulis apapun yang terjadi.
Kami langsung mendiskusikan
kembali permintaan tersebut, berakhir dengan kesepakatan menyetujui permintaan
keluarga si anak tersebut, dan hasil dari diskusi sepakat penulis yang menanganinya
untuk memaksa si anak tersebut apapun yang terjadi, asal ruh yang tertahan itu
bisa bebas kembali.
Besoknya tepat tanggal 4 juli
2018, penulis menyanggupi untuk menarik kembali ruh tersebut, malam harinya
lewat pkl. 01.00 penulis mencoba kontak menghubungi penghuni dayeuh luhur yang
kemarin menyatakan siap untuk membantu negosiasi.
Setelah beberapa kali mencoba
akhirnya bisa juga dihubungi dan kami mulai dialog membicarakan tentang
pemulangan atau pertukaran tapi dengan syarat yang tidak memberatkan. Dialog
panjang memakan waktu lama tidak ada kesepakatan yang ada hanya satu jalan
yaitu tarung, karena pihak katany pihak dayeuh luhur sudah mencoba untuk
mengajak pulang tapi tetap tidak mau, dan pihak dayeuh luhur menyerahkan semua
keputusan kepada pihak kami khususnya penulis karena penulis yang
menyanggupinya” kade sing gede
tinimbangan entong getas harupateun”. Itu permintaan dan nasihat yang di
berikan penguasa dayeuh luhur. Dengan kesepakatan dari pihak dayeuh luhur
ketemu di besok malam, dan penulis sepakati dan penulis siap untuk
menghadapinya.
Rutinitas pagi-pagi seperti biasa
walaupun ada sedikit was-was atau cemas soalnya penulis tidak tahu harus
berbuat apa untuk menghadapi, akan tetapi dengan keyakinan dalam diri, penulis
bersiap-siap untuk menghadapi apapun yang terjadi walaupun nyawa harus jadi
taruhannya asal tidak melibatkan teman-teman TIM yang lain, karena sudah merupakan
konsekwensi dari sebuah kerjaan seperti ini.
Siang dirasa berlalu sangat
cepat, masuk waktu magrib penulis berdzikir semua bacaan, amalan, dan aurod di
baca. Malam ini kebetulan malam latihan kanuragan penulis dan teman-teman,
penulis langsung berangkat ke tempat latihan tidak dari biasanya, lebih cepat
dari kebiasan.
Tujuan penulis agar penulis bisa lebih leluasa
berbincang-bincang dengan guru spiritual yang keseharian di panggil baba atau
nama aslinya tertera diatas drs. Ahmad Gibson Albusthomi, M.Ag. mengenain apa
yang akan terjadi nanti malam dan tujuan hanya satu yaitu minta nasihat apa
yang harus dilakukan nanti malam. Akan tetapi apa hendak di kata tidak sempat
tersampaikan, karena ada sesuatu hal sehingga hajat penulis tidak tersampaikan
pada guru atau baba. Bersambung.... (Bagian 5)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar