Rabu, 11 Juli 2018

KISAH NYATA - MEMUTUSKAN PERJANJIAN DENGAN PENGHUNI GUNUNG KUNCI

Penantian yang menegangkan (Bagian 4)

Bandung kota asri, keindahannya tidak dapat di lukiskan, di kota bandunglah kami Komunitas Spritual Ulin Karuhun yang berada dan terlahir dari salah satu torekat yang ada di cirebon dalam asuhan Dr. Bambang Qumaruzzaman, M.Ag dan sebagai pengasuh spritualnya yaitu Drs. Ahmad Gibson Al-Busthomi, M.Ag. Kami didik khusus untuk mendalami spiritual, untuk masuk di wilayah alam dan pengobatan, guna untuk kesinambungan antara manusia dan alamnya.  
Kembali pada cerita yang kemarin terpotong kisah yang merupakan kelanjutan dari membantu melepaskan pertalian janji yang menawa ruh seorang ponakan teman penulis dan teman dalam tim mendapat amanah untuk mengobatin penyakitnya.

Setelah kepulangan kami dari perjalanan Gunung Kunci dan dayeuh luhur, kami mengadakan diskusi, untuk persiapan selanjutnya menangani keponakan dari teman penulis, dan berakhir dengan kesepakatan menunggu kabar dari pihak dayeuh luhur.
Tepat dua hari sebelum hari rabu 5 juli 2018, setelah kepulangan dari gunung kunci dan dayeuh luhur dengan grup kami mendapat tulisan WA, yang berisikan minta dari pihak keluarganya memaksa untuk mengajak pulang ruh keponakan dari teman penulis apapun yang terjadi.
Kami langsung mendiskusikan kembali permintaan tersebut, berakhir dengan kesepakatan menyetujui permintaan keluarga si anak tersebut, dan hasil dari diskusi sepakat penulis yang menanganinya untuk memaksa si anak tersebut apapun yang terjadi, asal ruh yang tertahan itu bisa bebas kembali.
Besoknya tepat tanggal 4 juli 2018, penulis menyanggupi untuk menarik kembali ruh tersebut, malam harinya lewat pkl. 01.00 penulis mencoba kontak menghubungi penghuni dayeuh luhur yang kemarin menyatakan siap untuk membantu negosiasi.
Setelah beberapa kali mencoba akhirnya bisa juga dihubungi dan kami mulai dialog membicarakan tentang pemulangan atau pertukaran tapi dengan syarat yang tidak memberatkan. Dialog panjang memakan waktu lama tidak ada kesepakatan yang ada hanya satu jalan yaitu tarung, karena pihak katany pihak dayeuh luhur sudah mencoba untuk mengajak pulang tapi tetap tidak mau, dan pihak dayeuh luhur menyerahkan semua keputusan kepada pihak kami khususnya penulis karena penulis yang menyanggupinya” kade sing gede tinimbangan entong getas harupateun”. Itu permintaan dan nasihat yang di berikan penguasa dayeuh luhur. Dengan kesepakatan dari pihak dayeuh luhur ketemu di besok malam, dan penulis sepakati dan penulis siap untuk menghadapinya.
Rutinitas pagi-pagi seperti biasa walaupun ada sedikit was-was atau cemas soalnya penulis tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi, akan tetapi dengan keyakinan dalam diri, penulis bersiap-siap untuk menghadapi apapun yang terjadi walaupun nyawa harus jadi taruhannya asal tidak melibatkan teman-teman TIM yang lain, karena sudah merupakan konsekwensi dari sebuah kerjaan seperti ini.
Siang dirasa berlalu sangat cepat, masuk waktu magrib penulis berdzikir semua bacaan, amalan, dan aurod di baca. Malam ini kebetulan malam latihan kanuragan penulis dan teman-teman, penulis langsung berangkat ke tempat latihan tidak dari biasanya, lebih cepat dari kebiasan.
Tujuan penulis agar penulis bisa lebih leluasa berbincang-bincang dengan guru spiritual yang keseharian di panggil baba atau nama aslinya tertera diatas drs. Ahmad Gibson Albusthomi, M.Ag. mengenain apa yang akan terjadi nanti malam dan tujuan hanya satu yaitu minta nasihat apa yang harus dilakukan nanti malam. Akan tetapi apa hendak di kata tidak sempat tersampaikan, karena ada sesuatu hal sehingga hajat penulis tidak tersampaikan pada guru atau baba. 

Bersambung.... (Bagian 5)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...