Inilah kita. Tapi kau tak persis sama setiap harinya. Kau lantas berkilah bahwa hidup adalah lompatan. Sebuah organisma yang bertumbuh terus tentang ketidakajegan. Tentang bagaimana tanda tidak pernah mengada di tempat yang sama. Dikenali persis setiap biliknya. Kukuh merengkuh keabadian: Ia berkembang. Ia menjauh dan menampik berhenti menemu titik sempurna yang entah dimana.
Aku mendapatimu tak bisa diam. Juga rasaku seperti tak sama setiap masanya. Apakah ini? Apakah yang bergolak di langit asmara kita? Kau mungkin dekat tapi bayang cintamu bergegas menjauh ke ufuk nun di sana. Seolah tak kerasan menghitung niat dan keinginan. Pikirku, aku gagal memburu waktu, menghitung menit dan detik. Aku bukan seperti yang kau sangka, lelaki dengan tenaga: Aku adalah mimpi yang tetirah tanpa sengaja.
Dimanakah jejakmu? Dimanakah sapaan indah dengan setulus pujian. Dimanakah bunyi puisi yang kerap kau kirimkam seperti di suatu senja. Setiap kata seolah cahaya yang ujungnya hangat menyapa. Setiap kalimatnya adalah nujum tentang janji yang tak mungkin diingkari. Kini suaramu seperti berserak memudar di imaji. Ia tak lagi memberi tanda meneguhkan kesungguhan. Di cermin batinku parasmu pucat seolah daun kehabisan hijau dan wangi.
Inilah kita. Dengan kemustahilan yang hampir sempurna. Juga kemungkinan yang tak pernah ada. Gugur melepuh menghujam ke bumi
De ALso Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar