Beragama
adalah aqal. Kenapa aqal? Karena ia bisa menuntun siapapun untuk berpikir
benar. Berpikir benar itu menentukan, menganalisis dan membedakan antara yang
asli dan palsu. Antara yang nyata dan samar. Antara yang hak dan bathil. Tetapi
berpikir benar belum tentu menjadi jaminan orang bertindak baik. Dengan itu
yang paling penting dari berpikir adalah menemukan yang baik bahkan yang-paling
baik sebagai alas untuk bertindak (beramal).
Aqal
beragama dengan itu tidak hanya dipahami sebagai reason atau nalar dalam
pengertian filsafat logika (yang mengatur hukum-hukum berpikir semata) tetapi
kemampuan yang dianugrahkan Allah kepada manusia untuk menemukan alasan untuk
bertindak paling-baik. Yang-paling-baik menurut tuntunan Guru adalah yang
"menyelamatkan". Inilah makna dari tuturan nadhom yang menyatakan
"aqal luru dalan keselamatan".
Aqal
beragama adalah aqal yang menyelamatkan. Aqal yang dimiliki orang beriman
sebagai modal memperoleh kualitas taqwa. Kualitas tertinggi dalam level
beragama yang ditegaskan al-Quran. Aqal yang menyelamatkan hanya mungkin
beroperasi jika ia ditopang oleh qolbu (hati). Di sini, qolbu seumpama pengadil
atau wasit yang mengontrol dan menakar batasan dan tindakan yang menyelamatkan
itu.
Qolbu itu
letaknya di dada. Sebagai organ biologis ia adalah hati tetapi sebagai organ
spiritual ia adalah tempat memancarnya kebenaran yang asalnya dari Allah azza
wa jalla. Bahkan qalbu menjadi ukuran sehat tidaknya seseorang. "Di dalam
tubuh manusia ada sesuatu yang jika sesuatu itu sehat maka sehatlah jasadnya,
sebaliknya jika sesuatu itu busuk maka busuklah jasadnya. Sesuatu itu adalah
qalbu". Begitu sebuah hadits Nabi menegaskan.
Hati atau
qalbu yang sehat itulah yang disebut al-Quran sebagai "qolbun saliim"
(قلب سليم). Qolbun saliim adalah hati yang selamat, hati yang damai, hati yang
mencerahkan. Memperoleh qalbun saliim pasti tidak mudah. Tidak hanya cukup
dengan usaha tapi juga doa. Barangkali karena itulah Guru meninggalkan tuntunan
Awrod Ati Salim sebagai bacaan yang menyertai sholat tahajud yang dilakukan.
Qalbu
salim dalam pengertian operasionalnya adalah "perilaku". Yang
dimaksud adalah perilaku hati. Hasud, iri, dengki itulah gejalanya. Gagal
mengelola hati tidak hanya menyebabkan "pangkat dadi hina" tetapi
bisa mengantarkan manusia terpelanting ke derajat paling nista bahkan lebih
(كالانعام بل هم اضل).
Aqal yang
menyelamatkan, hati yang berperilaku damai bahkan mencerahkan meniscayakan
siapapun untuk "bertingkah" paling utama. Inilah fungsi metabolisme.
Metabolisme adalah tindakan nyata seorang manusia baik sebagai pribadi ataupun
sebagai makhluk sosial.
Pemahaman
yang benar terhadap metabolisme mencegah seseorang untuk bertindak tak jujur,
rakus, curang, dan menghalalkan segala cara. Yang dicari adalah yang paling
utama, yang halal dan diridlai Allah azza wa jalla. Allahu a'lam
Baca Juga Mari Bersepedah bag 2
Baca Juga Mari Bersepedah bag 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar