Selasa, 31 Juli 2018

MARI BERSEPEDAH 3



Beragama adalah aqal. Kenapa aqal? Karena ia bisa menuntun siapapun untuk berpikir benar. Berpikir benar itu menentukan, menganalisis dan membedakan antara yang asli dan palsu. Antara yang nyata dan samar. Antara yang hak dan bathil. Tetapi berpikir benar belum tentu menjadi jaminan orang bertindak baik. Dengan itu yang paling penting dari berpikir adalah menemukan yang baik bahkan yang-paling baik sebagai alas untuk bertindak (beramal).
Aqal beragama dengan itu tidak hanya dipahami sebagai reason atau nalar dalam pengertian filsafat logika (yang mengatur hukum-hukum berpikir semata) tetapi kemampuan yang dianugrahkan Allah kepada manusia untuk menemukan alasan untuk bertindak paling-baik. Yang-paling-baik menurut tuntunan Guru adalah yang "menyelamatkan". Inilah makna dari tuturan nadhom yang menyatakan "aqal luru dalan keselamatan".
Aqal beragama adalah aqal yang menyelamatkan. Aqal yang dimiliki orang beriman sebagai modal memperoleh kualitas taqwa. Kualitas tertinggi dalam level beragama yang ditegaskan al-Quran. Aqal yang menyelamatkan hanya mungkin beroperasi jika ia ditopang oleh qolbu (hati). Di sini, qolbu seumpama pengadil atau wasit yang mengontrol dan menakar batasan dan tindakan yang menyelamatkan itu.

Qolbu itu letaknya di dada. Sebagai organ biologis ia adalah hati tetapi sebagai organ spiritual ia adalah tempat memancarnya kebenaran yang asalnya dari Allah azza wa jalla. Bahkan qalbu menjadi ukuran sehat tidaknya seseorang. "Di dalam tubuh manusia ada sesuatu yang jika sesuatu itu sehat maka sehatlah jasadnya, sebaliknya jika sesuatu itu busuk maka busuklah jasadnya. Sesuatu itu adalah qalbu". Begitu sebuah hadits Nabi menegaskan.
Hati atau qalbu yang sehat itulah yang disebut al-Quran sebagai "qolbun saliim" (قلب سليم). Qolbun saliim adalah hati yang selamat, hati yang damai, hati yang mencerahkan. Memperoleh qalbun saliim pasti tidak mudah. Tidak hanya cukup dengan usaha tapi juga doa. Barangkali karena itulah Guru meninggalkan tuntunan Awrod Ati Salim sebagai bacaan yang menyertai sholat tahajud yang dilakukan.
Qalbu salim dalam pengertian operasionalnya adalah "perilaku". Yang dimaksud adalah perilaku hati. Hasud, iri, dengki itulah gejalanya. Gagal mengelola hati tidak hanya menyebabkan "pangkat dadi hina" tetapi bisa mengantarkan manusia terpelanting ke derajat paling nista bahkan lebih (كالانعام بل هم اضل).
Aqal yang menyelamatkan, hati yang berperilaku damai bahkan mencerahkan meniscayakan siapapun untuk "bertingkah" paling utama. Inilah fungsi metabolisme. Metabolisme adalah tindakan nyata seorang manusia baik sebagai pribadi ataupun sebagai makhluk sosial.
Pemahaman yang benar terhadap metabolisme mencegah seseorang untuk bertindak tak jujur, rakus, curang, dan menghalalkan segala cara. Yang dicari adalah yang paling utama, yang halal dan diridlai Allah azza wa jalla. Allahu a'lam

Baca Juga Mari Bersepedah bag 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...