Membaca karya sastra (termasuk sajak di dalamnya) bukanlah perkara mudah. Terlebih jika teks atau bahasa yang digunakan oleh sajak itu menggunakan diksi/terminologi yang “tidak umum” atau menggunakan bahasa daerah (Sunda buhun) yang sebagian kosa katanya tidak lagi digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari masyarakat hari ini.
Nyi Ronggeng manggung jadi cirina cimanuk
arum
Jampang manggung ngaguar cikapundung-citarum
Sinjang kebat sasakala nu rumasa jadi kala baralak
Satria lunta tina tuna kabisa pancawala seja
bumela
Balebat rasa katresna dina mangsa pancadria
sukma
Raga waluya ku batara lana cipta pancer dina
kalima
Cakra sancang larangan malagrang na
mumunggang
Jarumat jagat bubuka danurwenda sapta
manglayang
(Judul sajak "Ruwatan Manglayang hlmn...")
Membaca teks puisi yang diksi dan kosa katanya “aneh” di telinga pasti membutuhkan tidak sekedar pemahaman terhadap teks secara keseluruhan tetapi pengetahuan terhadap arti perkata pun mutlak diperlukan. Terlebih bagi saya yang awam dalam dunia sastra tugasnya bisa jadi berlipat. Kesulitan maha berat itulah yang saya alami ketika harus memberikan semacam “testimoni” pada buku “Mantra Sajak”.
Mantra Sajak sebagaimana dituturkan oleh penulisnya merupakan kumpulan sajak hasil dari “tapa brata” dan “penglihatan” terhadap “dunia sana”.
Bukan tanpa konteks jika kumpulan sajak itu dibuat. Kumpulan sajak itu dipicu oleh berbagai fenomena yang terjadi yang ditemui penulisnya. Sebagiannya merupakan informasi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, sebagian yang lain merupakan informasi atau semacam isyarat bagi manusia hari ini bagaimana seharusnya berucap dan bertindak.
Mantra Sajak, menurut amatan saya, adalah juga kumpulan nasihat, tuturan tentang wasiat para inohong yang hadir di masa lalu atau petunjuk tentang arah sejarah yang terjadi di tatar Sunda. Seumpama kisah yang “meluruskan” kekeliruan-kekeliruan manusia hari ini dalam mengerti peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau.
Amit ampun
nya paralun kaluhur neda papayung
Kanu
kagungan Kun fayakun Gusti Maha Agung
Ampun kanu jadi
papayung ka Nabi anu linuhung
Kamustika
ning alam dunya Muhammad jinunjung
Iraha mangsa panustungan rek datang
tatandang
Hirup katunggkul ku pati paeh teu apal di mangsa
Geterna rasa kana gapura raga anu matak ngarasula
Pahatulalis ati tina diri paanggana rasa tina rumasa
Hirup katunggkul ku pati paeh teu apal di mangsa
Geterna rasa kana gapura raga anu matak ngarasula
Pahatulalis ati tina diri paanggana rasa tina rumasa
(Judul Sajak Rarangkay Raga hlmn...)
Sebagai hasil dari “tapa brata” dan suatu “penglihatan” tertentu, tentu orang bisa menduga sebagai hasil subjektif penyusunnya. Namun jika kita bersedia membaca kumpulan sajak ini secara sabar akan ditemui fakta bahwa ada banyak hal yang bisa kita ambil tentang beberapa pelajaran hidup juga informasi apa saja yang pernah terjadi di masa lampau.
R. Hambali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar