Gunung
Gede Pangrango merupakan salah satu kawasan yang di lindungi termasuk ke
wilayah provinsi Jawa Barat gunung ini cukup terkenal di kalangan pendaki. Gunung
yang berdampingan yang menjadikan gunung ini primadona bagi pendaki, dan
keberadaan alun-alun Surya Kencana merupakan spot terbaik untuk menikmati
edelweiss. Biasanya area inilah yang sering dijadikan tempat bermalam atau camping
oleh para pendaki. Di kawasan ini masih bisa di temuai berbagai binatangseperti
Owa Jawa, Lutung Surili, Anjing Ajag, Macan Tutul, yang termasuk binatang yang
langka. Itulah keindahan dari pemandangan yang tampak oleh kasat mata
manusia.
Akan
tetapi di balik semua keindahan itu, pangrango menyimpan banyak misteru
terutama yang berhubungan dengan kerajan padjadjaran. Penulis akan bercerita
yang merupakan kisah nyata yang di alami penulis, terlepas percaya atau tidak.
Di
balik kemegahan gunung gede pangrango, ada kisah yang berbau misteri, yaitu tahun
2017 kami yang terdiri dari enam orang yang merupakan perwakilan dari kamunitas
pecinta lingkungan mengadakan pelancongan untuk ruwatan ke gunung gede
pangrango, pemberangkatan dari bandung satu hari sebelum pendakian, kami di
terima oleh salah satu anggota dewan daerah sukabumi, Karena emang kami
berencana naik dari daerah sukabumi.
Ringkas
cerita hari besoknya sesuai dengan rencana kami hendak melaksanakan pendakian ke
gunung gede, lokasi pendakian di mulai dari Pondok Alam Alun-alun surya kencana. Setelah
serapan dan semuanya siap kami diantar oleh supir sampai pondok alam, kemudian
kami laporan pada kantor administrasi yang bersangkutan tidak lupa menyebut
nama komunitas kami.
Setelah
beres semuanya kami rombongan beriringan naik dengan bacaan Basmalah, kami
langkahkan kaki mencari tempat yang nyaman untuk melakukan ruwatan, sampai pada
pos satu kami mencuba ngecek tempatnya dan juga mengontak penghuni gaib daerah
sana, kami hanya di sarankan untuk naik ke pos selanjutnya, akhirnya kami
melanjutkan perjalanan melalui jalur sungai dan menyisir lewat pegangan akar
dari pohon yang menjorok ke tepi sungai, sampai di Pos dua kami juga hanya di
suruh untuk melanjutkan perjalanan untuk terus naik.
Dengan
perasaan yang tidak karuan khususnya penulis, “ apakah akan terus berjalan sampai ke arah puncak, kalau tidak ada yang bisa menerima kami”.
Walau bagaimanapun harus di lakoni karena ini sudah menjadi tugas untuk
melakukan ini, dengan tekad bulat kami melanjutkan perjalan hingga sampai pada
satu tempat yang menurut kami nyaman, kami berhenti dan istirahat niatnya hanya
sekedar mengisi perut dengan makanan yang seadannya. Setelah beberapa saat kami
istirahat, penulis mendengar suara tanpa ada wujudnya yang mengucapkan selamat atas
ke datang kami ke gunung gede.
Penulis
pencoba kontak dengan yang punya suara, ada rasa kaget yang mendera penulis
saat itu karena suara itu keluar dari mahluk yang berjenis harimau yang tepat ada
sekitar lima meter dari kami istirahat, dari seluruh rombongan ada dua orang yang
melihat penampakannya yang lain hanya mendengar suara aumannya saja dari
harimau yang berdiri di depan kami.
Setelah
penulis berdialog dengan mahluk yang berbentuk harimau yang mengaku sebagai penjaga
dan sekaligus tunggangan Eyang Surya
Kencana, sepakat menerima kami dengan senang hati dan mempersilahkan untuk
melakukan ruwatan di tempat tersebut. Tidak berselang lama dari menghilangnya
harimau dating seorang pemuda menghampir kami, dengan mengucapkan salam khas
sunda “Sampurasun”, Penulis hanya
berbincang-bincang sebentar dengan pemuda tersebut, hanya menanyakan nama dan nama
daerah tersebut “salam wilujeng sumping
di banjar karang pamidang wewengkon padjadjaran”. Setelah pemuda itu pergi
kami langsung melakukan persiapan untuk melakukan ritual.
Kami
berenam mengambil posisi tugas masing-masing yang telah disepakati, untuk yang
masuk ke alam sana kami sepakati, penulis, ade vera, mia dan apuy, sedangkan
yang dua ucup sebagai penjaga kalau saja ada apa-apa yang terjadi pada diri
tubuh kami selagi kami masuk, dan satu orang lagi tari bertugas untuk
mendokumentasikan apa yang di lakukan.
Alam
sana atau alam gaib merupakan alam yang serba-serbi banyak liku dalam lorong
banyak dimensi serta banyak alam-alam lain yang ada di alam gaib, maka tidaklah
aneh jika penemuan si A dan si B berbeda walaupun masuk pada satu pintu yang
sama, karena bisa saja masuk pada di mensi yang berbeda.
Makanya
penulis tidak berani untuk menuliskan pengalaman teman-teman satu rombongan
yang saat itu bareng mengikuti ruwatan. Ini murni hanya pengalaman penulis yang
akan di ceritakan.
Setelah
sama-sama masuk dengan pintu yang sama ternyata yang terlihat, penulis hanya
melihat penulis seorang diri berada di lembah yang luas, walau samara-samar
penulis masih sempat melihat teman-teman satu pemberangkatan itu, penulis
melihat ada ade di dekat pusaran air, mia berjalan di dalam lorong, apuy
terlihat sedang menyebrangi sungai.
Kembali
pada cerita penulis saat itu penulis berada di lembah yang luas dan hijau seperti
tidak berujung, langit tampak cerah tapi tidak terasa panas, sinar matahari
menyinari tapi tidak membuat gerah kepanasan. Sejauh mata memandang, yang
terlihat hanya pemadangan yang indah dan awan tipis berarak tertiup angin yang membuat
adem hati ini.
Tidak
berapa lama kejadian itu berlangsung, penulis melihat seorang pemuda yang tadi
berbincang menghampiri, perawakan yang sedang dengan pakaian yang serba putih, potongan
pakaian seperti pakaian pangsi adat sunda.
Pemuda
yang berperawakan sedang terlihat tampan, wajahnya sangat teduh dan enak
dipandang, sorot matanya lembut, bersih dan bersinar benar-benar potongan
satria. Pemuda tersebut mengaku bernana Gagak
Lembayung menurut penuturannya ia merupakan satria pinilih pada jamannya,
ia yang memilih pindah alam, yang di ikuti jejaknya oleh eyang surya kencana dan
sekarang bersama mendirikan dukuh Padjadjaran di tataran gunung gede.
Bersambung...(Bagian 2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar