Rabu, 11 Juli 2018

KISAH NYATA - MEMUTUSKAN PERJANJIAN DENGAN PENGHUNI GUNUNG KUNCI

Pertarungan Tidak Seimbang ( Bagian 5)

Akhirnya dengan membulatkan tekad apapun resikonya penulis akan tanggung. Latihan pada saat itu juga tidak karuan karena pikiran yang terpenuhi kepanikan juga, karena penulis fokus pada apa yang akan terjadi nanti malam dan tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam kedepan.
Tepat pkl 01.15 wib. apa yang di nanti-nanti datang terjadi juga, penulis sudah siap-siap penulis sudah pasrah apapun yang terjadi tidak akan menyalahkan siapa-siapa, Satu regu pasukan yang sudah siap bertempur datang dengan membawa anak tersebut.
Dengan diwakili satu juru bicara, mulai berdialog, tentang pertentangan dalam masalah ini, dari pihak sana menuntut penulis untuk tidak melakukan tindakan kekerasan, akan tetapi penulis yang sudah janji terhadap keluarga dari anak tersebut menolak, karena dengan alasa keluarganya lebih punya hak untuk anak tersebut.
Dari pihak penulis diwakili ki pangrango dan Kyai Ahmad sanusi atau sering disebut si kumpay, untuk menjadi juru bicara mewakili pihak penulis, di pihak penulis hanya ada ki pangrango, nyai geding anteh, dan si kumpay,

Dialog sebentar dan yang berujung pertarungan tidak seimbang, 4 melawan 15 belas dengan senjata dan kemapuan seadaya penulis berusaha untuk melawan, jalan pertarung yang tidak seimbang berlangsung lumayan lama cukup a lot.
Si kumpay yang di pandangan sehari-hari tidak begitu banyak kelihatan gerakan-gerakannya dalam pertarungan menjadi sangat gesit dan ringan serta mengandung tenaga lapisan yang tidak bisa di pandang ringan, walaupun melawan empat si kumpay tidak merasa takut, ia menyerang mereka habis-habisan, sehingga berhasil keluar jadi pemenang dan menawa empat musuhnya.
Pun juga dengan ki pangrango, yang keseharian hanya melucu dan bikin penulis tertawa, dalam pertempurannya menjadi garang dengan gerakan-gerakan yang telah di kuasainya, ki pangrango membuat empat musuh kalang kabut, dan ki pangrango dapat menawa tiga dari empat musuhnya, di karenakan yang satunya lari meninggalkan medan danalaga.
Lebih tidak disangka lagi dengan pertarungan Nyai Geding Anteh, nyai geding anteh merupak sosok perempuan yang kesehariannya seperti dayang, lemah lembut. Di pertarungan berubah menjadi singan betina yang seolah haus akan darah musuhnya, tiga nyawa musuh melayang tanpa ampun, dan satu tertawan.
Sedangkan pertarungan penulis tidak seramai dan seseru tiga kawan penulis, karena pertarungan tersebut merupakan hal yang baru bagi penulis, penulis gagal melawan empat musuh tersebut, dan keluar dengan babak belur penuh darah.  
Ringkas jalan pertarungan memakan waktu hampir satu jam dengan berlumuran darah-darah. Tapi alhamdulilah dengan pertolongan Allah Swt., dan kegigihan perlawanan teman penulis si kumpay bisa menawa empat dari pasukan tersebut, ki pangrango tiga, Nyai Geding Anteh satu, penulis sendiri babak belur. Akan tetapi penulis masih bersyukur bisa selamat dari pertarung tersebut dan masih bisa mempertahankan nyawa, yang lebih penting dari delapan tawanan ruh ponakan teman termasuk di dalamnya tinggal membawa ke keluarganya dan menyatukan dengan jasadnya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...