Pertarungan Tidak Seimbang ( Bagian 5)
Akhirnya dengan membulatkan tekad
apapun resikonya penulis akan tanggung. Latihan pada saat itu juga tidak karuan
karena pikiran yang terpenuhi kepanikan juga, karena penulis fokus pada apa
yang akan terjadi nanti malam dan tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam
kedepan.
Tepat pkl 01.15 wib. apa yang di
nanti-nanti datang terjadi juga, penulis sudah siap-siap penulis sudah pasrah
apapun yang terjadi tidak akan menyalahkan siapa-siapa, Satu regu pasukan yang
sudah siap bertempur datang dengan membawa anak tersebut.
Dengan diwakili satu juru bicara,
mulai berdialog, tentang pertentangan dalam masalah ini, dari pihak sana
menuntut penulis untuk tidak melakukan tindakan kekerasan, akan tetapi penulis
yang sudah janji terhadap keluarga dari anak tersebut menolak, karena dengan
alasa keluarganya lebih punya hak untuk anak tersebut.
Dari pihak penulis diwakili ki
pangrango dan Kyai Ahmad sanusi atau sering disebut si kumpay, untuk menjadi
juru bicara mewakili pihak penulis, di pihak penulis hanya ada ki pangrango,
nyai geding anteh, dan si kumpay,
Dialog sebentar dan yang berujung
pertarungan tidak seimbang, 4 melawan 15 belas dengan senjata dan kemapuan
seadaya penulis berusaha untuk melawan, jalan pertarung yang tidak seimbang
berlangsung lumayan lama cukup a lot.
Si kumpay yang di pandangan
sehari-hari tidak begitu banyak kelihatan gerakan-gerakannya dalam pertarungan
menjadi sangat gesit dan ringan serta mengandung tenaga lapisan yang tidak bisa
di pandang ringan, walaupun melawan empat si kumpay tidak merasa takut, ia
menyerang mereka habis-habisan, sehingga berhasil keluar jadi pemenang dan
menawa empat musuhnya.
Pun juga dengan ki pangrango,
yang keseharian hanya melucu dan bikin penulis tertawa, dalam pertempurannya menjadi
garang dengan gerakan-gerakan yang telah di kuasainya, ki pangrango membuat
empat musuh kalang kabut, dan ki pangrango dapat menawa tiga dari empat
musuhnya, di karenakan yang satunya lari meninggalkan medan danalaga.
Lebih tidak disangka lagi dengan
pertarungan Nyai Geding Anteh, nyai geding anteh merupak sosok perempuan yang
kesehariannya seperti dayang, lemah lembut. Di pertarungan berubah menjadi
singan betina yang seolah haus akan darah musuhnya, tiga nyawa musuh melayang
tanpa ampun, dan satu tertawan.
Sedangkan pertarungan penulis tidak
seramai dan seseru tiga kawan penulis, karena pertarungan tersebut merupakan
hal yang baru bagi penulis, penulis gagal melawan empat musuh tersebut, dan
keluar dengan babak belur penuh darah.
Ringkas jalan pertarungan memakan waktu hampir satu
jam dengan berlumuran darah-darah. Tapi alhamdulilah dengan pertolongan Allah
Swt., dan kegigihan perlawanan teman penulis si kumpay bisa menawa empat dari
pasukan tersebut, ki pangrango tiga, Nyai Geding Anteh satu, penulis sendiri
babak belur. Akan tetapi penulis masih bersyukur bisa selamat dari pertarung
tersebut dan masih bisa mempertahankan nyawa, yang lebih penting dari delapan
tawanan ruh ponakan teman termasuk di dalamnya tinggal membawa ke keluarganya
dan menyatukan dengan jasadnya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar