Rabu, 18 Juli 2018

YANG TAK TERSELESAIKAN

Matahari tak terang benar hari ini. Mungkin hujan sedang mengintip celah untuk jatuh. Lalu aku hanya bisa diam seusai tuntas pekerjaan. Apa gerangan yang menjadi tanda bagi setiap peristiwa. Bagaimana soal ketika hidup hanya berjalan di tempat yang sama. Lalu apa gunanya doa, tentang pinta yang seolah kehilangan makna? Nalarku gagap menjawab tanya. Pikirku gigil menelisik banyak hal yang kerap mengganggu manusia.

Yang-tak selesai. Seolah datang dengan wajah yang persis sama. Seperti kata dengan amar yang tegas menuntut genap  dan harus rampung hingga di ujung. Seumpama belati yang mengancam. Menghindar atau menjauh seolah fatamorgana yang ketika didekati berubah warna dengan ajakan dan pesan yang diulang-ulang. Yang-tak selesai seperti nujum atau kutukan yang tertanam jauh di sana. Tak bisa berubah dan dengan sendirinya menolak untuk pudar. Seolah rajah yang terukir, ia abadi mendiami. Ia kukuh menoreh sesal di suatu senja, dan menciptakan air mata di suatu malam.


Yang-tak selesai. Berubah sesal di sisa tenaga. Melahirkan kebencian di diri semisal umpatan untuk ketidakberdayaan. Sebab kaki seolah tak sudi lagi berlari melampaui garis akhir. Menyelesaikan kefanaan yang dianggap kekal, ditahbis sebagai keabadian. Yang-tak selesai, seolah pisau dengan sayatan yang meninggalkan luka tak berbilang. Menjangkarkan amuk untuk segera mengahiri hidup. Yang-tak selesai, mungkin sejarah yang tak berubah dengan wajah, dengan hasutan yang berbilang lipatan.

Yang-tak selesai. Menjadi do’a untuk kelemahan. Berharap maaf dan senyuman Tuhan;

D-Also Sprach
29 Juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...