Minggu, 29 Juli 2018

MARI BERSEPEDAHLAH 2

Dalam konteks perjuangan bahkan dalam usaha membebaskan negara dari cengkraman penjajahan, keterlibatan Syeikhuna tak bisa ditampik. Linggar Jati bahkan kemerdekaan RI adalah peristiwa yang seharusnya dicatat sejarah sebagai bukti pengabdian dan perjuangannya kepada negara.
Sayangnya, sejarah abai terhadap keterlibatan itu. Buku dan data-data sejarah tak mencatat segorespun. Negara melupakan. Negara menyingkirkan Syeikhuna di pentas perjuangan kemerdekaan. Tapi layaknya orang suci lainnya, Syeikhuna tak membutuhkan pengakuan. Tak memerlukan sanjungan dan catatan. Pengabdian dan perjuangan yang tulus tak membutuhkan sebutan pahlawan yang biasa disematkan.

Pahlawan sejati adalah dia yang mencurahkan pikiran dan tenaga tanpa ingin dianggap istimewa. Pahlawan sejati adalah dia yang menggenggam amanat Tuhan untuk disebarkan tanpa butuh hitung-hitungan. Pahlawan sejati adalah dia seumpama garam yang melezatkan hidangan. Tak diketahui ujudnya tapi dirasakan pengaruh dan manfaatnya. Pahlawan sejati itulah Syeikhuna.
Syeikhuna telah memberikan jejak. Syeikhuna telah menorehkan tinta emas arti perjuangan bahkan makna mencintai negeri. Maka Asy-Syahadatain adalah jelmaan dari sekumpulan orang yang mengejawantahkan iman dalam pengertian yang sesungguhnya.
حب الوطن من الايمان
Mencintai negeri adalah bagian dari iman.
Adalah kita yang jauh masanya dari Syeikhuna. Yang kita miliki hanyalah tuntunan dan sedikit ingatan tentangnya. Tapi sungguh, tuntunan itu menyuguhkan kepastian dan bukti otentik tentang petuah dan nasihat yang pasti berguna. Seumpama pusaka, tuntunan yang ditinggalkan itu menjadi bekal yang pasti berharga buat kita.
Sebuah pusaka akan bernilai jika ia dijadikan kompas dan panduan untuk kehidupan. Sebuah pusaka akan dianggap istimewa jika ia sanggup memberikan arah untuk membantu mewujudkan cita-cita. Maka, tuntunan sebagai pusaka tak boleh sekadar dianggap monumen dan warisan sejarah yang tak boleh disentuh. Tuntunan membutuhkan pemahaman. Tuntunan memerlukan kajian ulang supaya menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Persis, di titik ini kita membutuhkan pemimpin. Memerlukan sosok yang bisa memeras saripati pusaka tuntunan itu. Kita membutuhkan kehadiran yang dengannya pemahaman kita tentang tuntunan itu tak menyimpang dan bergerak liar tanpa kendali. Sungguh, kita butuh Syeikhuna zaman berzaman. Personifikasi dari Syeikhuna terdahulu yang memaknai perjuangan dengan ikhlas, tulus dan tanpa pamrih. Allahu a'lam (bersambung. . . )


De ALso Layang Kusumah

Baca Juga MARI BERSEPEDAH 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...