Rabu, 04 Juli 2018

Surat Kecil Untuk Dr. Bambang Q. Anees, Baba Icon dan Sayyid Gamal Yahya

Catatan ini hanya sebuah pengakuan dan ungkapan terima kasih untuk Dr. Bambang Q Anees, Baba Icon dan Sayyid Gamal Yahya yang atas kemurahan hati beliau-beliaulah penulis bisa keluar dari jaman jahiliyah dan sekarang sedang berupaya untuk mencari arah jalan yang benar.

Kenangan masa yang lalu yang pahit dengan lubang hitam yang telah terkubur bersama tandusnya tanah pasundan, kenangan masa yang lalu yang pahit dengan lubang hitam yang telah terbang bersama hebusan angin, kenangan masa yang lalu yang pahit dengan lubang hitam yang telah terbakar bersama panasnya api, kenangan masa yang lalu yang pahit dengan lubang hitam yang terhapus hilang bersama awan yang terbang. Semuanya telah hilang yang ada hanya aku yang sekarang, aku yang masih butuh pengertian, aku yang masih butuh kasih sayang, aku yang masih butuh penjelasan makna yang terkandung dalam hidup dan kehidupan, untuk menuju jalan ke pangkuan dan keridhoan Illahi robb’i.


Catatan kecil untuk ungkapan rasa syukur atas jasa Baba Icon Orang Tua sekaligus mursyid Filsafat kehidupanku, Bapak Bambang Q-Anees Orang Tua sekaligus mursyid Agama yang mengenalkanku pada tawasulan Asy-Hadatain dan ke Sayyidi Gamal Yahya Mursyid Asy-Hadatain. Entah apa yang akan terjadi andai tiga sosok bapak ini tidak ada dalam kehidupanku, aku yang waktu itu masih berlumuran darah, dosa hina, papa atas perbuatanku, aku yang waktu itu masih bersama kemalasan, aku yang waktu itu masih bergulat dalam kebodohan tentang warna hidup. Walaupun dulu aku pernah duduk dibangku pendidikan sekolah keagamaan, akan tetapi tidak terbesit dalam hati untuk mengimplikasikan dalam kehidupan, hati ini seakan membatu tak pernah mendapatkan ketenangan dan kemantapan saat menjalani Ibadah.

Kejadian yang berlangsung sangat lama dari masa muda sampai saya bertemu dengan tiga bapak tersebut yang bisa membimbing dan mengakat aku dari jurang kekotoran tanpa menghina atau menistakan atas perbuatan aku masa lalu. Kondisi sekarang sangatlah nyaman, damai walaupun ada saja titik noda dan aral rintangan dihadapan, akan tetapi semuanya bisa dihadapai dengan tenang dan ikhlas. Awalnya aku ikut-ikutan ketika baba icon mengajar di kelas filsafat di luar jam pelajaran tepatnya di Pasamoan Sophia, dan aku ikut juga kalau ada diskusi tentang pembahasan filsafat. Terlepas ngerti atau tidak aku masukan saja semuanya dalam pikiran tanpa mau mencerna terlebih dahulu, karena aku beranggap ini pengetahuan.

Perjalan belajar filasafat tersebut sangat panjang dan melelahkan dan hampir-hampir aku memutuskan untuk berhenti, karena semakin banyak ilmu filsafat yang masuk semakin sulit untuk bernapas. Namun berkat pengertian baba dan pak Bq akhirnya aku bisa menyelesaikan juga belajar filsafat tentang kehidupan, walaupun pada dasarnya aku masih terus belajar filsafat dari kehidupan toh semuanya tidak ada tuntas selama hayat masih di kandung badan. Setelah pembalajaran filsafat yang dianggap saat itu sudah selesai, aku melanjutkan pembelajaran aku sedikit demi sedikit di bawa masuk ke wilayah pelajaran tasawuf tentang pengenalan jati diri, wujud dan maujud serta banyak hal lain yang bersangkutan dengan wilayah basar’i dan Illahi.

Sampai akhirnya baba mengajak aku menemui bapak Bq atau punya nama lengkap Bambang Qomaruzzaman yang mengajarkan aku kehidupan yang sedang dijalani. Beliau merupakan guru sekaligus bapak bagi diriku. Selain baba beliau juga sering memberi pengertian tentang hidup dan makna hidup. Ada persamaan kata yang sempat di ucapa oleh beliau dan baba mengenai kehidupan, “ Dalam Hidup itu bukan seberapa panjang umur kita dalam menjalani kehidupan akan tetapi seberapa dalam kita bisa mendalami kehidupan”. Perkataan yang memotivasi kesadaran aku akan hidup yang entah awalnya bagaimana aku mulai menemukan sesuatu yang aku cari selama ini.

Dengan belajar Filsafat akhirnya aku menemukan Tawasulan, Setiap minggu aku dan sahabat dan orang tua berkumpul dari rumah ke rumah. Hari-hari aku lewati dengan tenang dan malam rabu yang di tunggu-tunggu. Walaupun secara materi aku masih belum bisa mengapai dari tawasulan ku, mungkin karena dosa dan kehinaan ku yang dulu yang membuat batasan akan tetapi dengan tawasulan aku merasa nyaman dan merasa akulah yang paling di sayang Allah SWT., melalui beliau tiga orang tua ku menjadikan aku seperti manusia. Jasa-jasa tiga orang tua sangatlah besar dan tidak mungkin aku bisa membalasnya, aku hanya bisa mendo’akan dalam hati dan dalam setiap sujudku, ya….Allah berkahkanlah umurnya, dan berikan kemulian hidup di dunia untuk bekal membawa aku dan yang lain menuju jalanMu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...