Pintu kamar kubiarkan terbuka, menghadap malam yang merangkak diam-diam.
Seperti lamunanku tentang pesanmu yang datang bersusulan dari siang hingga senja kehilangan warna. Entah dimana jejak kakimu.
Bagaimana rupa wajahmu. Aku hanya mengamati melalui tulisan, membaca melalui aksara yang kau kirimkan di sela petir, di samping angin dan gigil air hujan.
Aku kini menginsyafi keberadaanmu. Memahami galau jiwamu yang nyeri tentang nasib manusia.
Meratapi kelemahan raga sosok yang kau sayangi karena usia atau karena cintanya Tuhan pada kehidupan.
Temanku. Sejarah hanya bisa dimengerti karena ketidaksempurnaan,
mungkin. Kehidupan bisa dinalar karena ada yang tak wajar yang mengisi sekalipun kerap kita benci.
Manusia bukanlah sosok hanya dengan “keharusan” dan “ketidakmungkinan”.
Aku. Kamu. Kita. Manusia. Lantas menjelma dari keniscayaan kehidupan yang menyulam duka, lara, tak berdaya menjadi intinya. Ya, manusia di kelilingi dan dibatasi oleh banyak peristiwa nyeri.
Berterimakasihlah pada Tuhan yang melengkapi manusia dengan air mata dan jerit ketidakberdayaan. Bersyukurlah pada pemilik ketakberbatasan yang menganugrahi do’a sebagai jalan pelepasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar