Senin, 30 Juli 2018

TENTANGKU, BINTANGMU 2


Hujan ini tak pernah berhenti mengunjungiku. Dengan dingin yang hampir sama. Dengan butirannya yang tak pernah bosan mengirimkan pesan.
Kawanku.
Entah di stasi mana kita bisa pungkas mendedah cerita. Menguras sejuta kemungkinan untuk sekedar bertahan dalam gemuruh keberanian juga gelapnya ketakutan. Pada setiap bagiannya, aku menyangka selalu ada tunastunas baru yang tumbuh. Kerap ada bungabunga aneka warna yang memaksa harapan untuk terus diwiridkan. Teguh dipertahankan.
Kamu tahu, pada setiap detik kisahnya kita selalu diingatkan untuk tak boleh lengah menajamkan awasnya penglihatan. Tak boleh beringsut menghitung tanda bahaya yang bisa membuat kita terluka juga menderita.
Hujan ini tak pernah berhenti mengunjungiku. Dengan gigil yang hampir sama. Dengan curah yang tak pernah lalai menitipkan kunci rahasia.
Kawanku. Di lipatan sejarah yang manakah akan kita temukan titik sampainya. Ketika sempurna menjadi milik kita saja. Ketika keinginan tak hanya menggumpal di tenggorokan.
Seperti pernah ku keluhkan kepadamu tentang rindu yang kerap berhenti menjadi sunyi. Menjadi isyarat yang hanya berbuah gagap dan tak pernah tuntas menyampaikan banyak pesan juga keinginan. Kamu tahu, langkah ini telah banyak berbilang. Ia telah jauh menempuh panjangnya jarak penglihatan. Ia telah bertemu dengan banyak cerita.
Tandanya telah banyak terlukis di angkasa dengan  warna dan kerlip yang selalu terlihat memesona. Tapi dimanakah titik sampainya?
Hujan ini tak pernah berhenti mengunjungiku. Dengan deras yang hampir sama. Dengan butiran seolah mutiara yang tak pernah bisu memijarkan rindu.
Kawanku. Di banyak kesempatan ketika sunyiku berganti rupa dengan  wajahmu yang samar tersenyum menyapa. Aku bertemu dengan kenyataan yang seolah bisa aku rasakan tapi ternyata tidak.
Sungguh, aku sering keliru menafsirkan rupa rasaku. Bentuk keinginanku. Ketahuilah, aku kerap bimbang menghitung detak nadi dan titik persenyawaan dua perasaan manusia: KAU dan AKU.
Aku seolah makhluk pengecualian yang hanya pantas menujumkan nostalgia di dunia maya. Jutaan langkahku adalah fantasi yang hanya meninggalkan jejak di dunia imaji. Tidakkah kamu begitu?

Hujan ini tak pernah rehat memberiku isyarat. Sungguh, tak ingin surut aku mengejamu. Bergegas memburu garis tegas rupa rasamu. Hendak menemukan kasih, pandangan juga perasaan terdalammu seperti pernah kutemukan di suatu pesan yang pernah kau kirimkan.
Dengan kedhaifan dayaku, dengan kemuskilan kesempatanku:
karena engkau adalah lipatan berharga dan bintang berkilat di langitlangit jiwaku

De Also Layang Kusumah

Baca Juga : TENTANGKU, BINTANGMU Bag. 1


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...