Hujan ini tak pernah berhenti mengunjungiku. Dengan
dingin yang hampir sama. Dengan butirannya yang tak pernah bosan mengirimkan
pesan.
Kawanku.
Entah di stasi mana kita bisa pungkas mendedah cerita.
Menguras sejuta kemungkinan untuk sekedar bertahan dalam gemuruh keberanian
juga gelapnya ketakutan. Pada setiap bagiannya, aku menyangka selalu ada
tunastunas baru yang tumbuh. Kerap ada bungabunga aneka warna yang memaksa
harapan untuk terus diwiridkan. Teguh dipertahankan.
Kamu tahu, pada setiap detik kisahnya kita selalu
diingatkan untuk tak boleh lengah menajamkan awasnya penglihatan. Tak boleh
beringsut menghitung tanda bahaya yang bisa membuat kita terluka juga
menderita.
Hujan ini tak pernah berhenti mengunjungiku. Dengan gigil
yang hampir sama. Dengan curah yang tak pernah lalai menitipkan kunci rahasia.
Kawanku. Di lipatan sejarah yang manakah akan kita
temukan titik sampainya. Ketika sempurna menjadi milik kita saja. Ketika
keinginan tak hanya menggumpal di tenggorokan.
Seperti pernah ku keluhkan kepadamu tentang rindu yang
kerap berhenti menjadi sunyi. Menjadi isyarat yang hanya berbuah gagap dan tak
pernah tuntas menyampaikan banyak pesan juga keinginan. Kamu tahu, langkah ini
telah banyak berbilang. Ia telah jauh menempuh panjangnya jarak penglihatan. Ia
telah bertemu dengan banyak cerita.
Tandanya telah banyak terlukis di angkasa dengan
warna dan kerlip yang selalu terlihat memesona. Tapi dimanakah titik
sampainya?
Hujan ini tak pernah berhenti mengunjungiku. Dengan deras
yang hampir sama. Dengan butiran seolah mutiara yang tak pernah bisu memijarkan
rindu.
Kawanku. Di banyak kesempatan ketika sunyiku berganti
rupa dengan wajahmu yang samar tersenyum menyapa. Aku bertemu dengan
kenyataan yang seolah bisa aku rasakan tapi ternyata tidak.
Sungguh, aku sering keliru menafsirkan rupa rasaku.
Bentuk keinginanku. Ketahuilah, aku kerap bimbang menghitung detak nadi dan
titik persenyawaan dua perasaan manusia: KAU dan AKU.
Aku seolah makhluk pengecualian yang hanya pantas
menujumkan nostalgia di dunia maya. Jutaan langkahku adalah fantasi yang hanya
meninggalkan jejak di dunia imaji. Tidakkah kamu begitu?
Hujan
ini tak pernah rehat memberiku isyarat. Sungguh, tak ingin surut aku mengejamu.
Bergegas memburu garis tegas rupa rasamu. Hendak menemukan kasih, pandangan
juga perasaan terdalammu seperti pernah kutemukan di suatu pesan yang pernah
kau kirimkan.
Dengan kedhaifan dayaku, dengan kemuskilan kesempatanku:
karena engkau
adalah lipatan berharga dan bintang berkilat di langitlangit jiwaku
De Also Layang Kusumah
Baca Juga : TENTANGKU, BINTANGMU Bag. 1
De Also Layang Kusumah
Baca Juga : TENTANGKU, BINTANGMU Bag. 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar