Rabu, 11 Juli 2018

KISAH NYATA - MEMUTUSKAN PERJANJIAN DENGAN PENGHUNI GUNUNG KUNCI


Memutuskan Perjanjian  (Bagian 3)

Setelat lewat waktu isya, baru kami mendapat kabar kalau ada sebagaian penghuni sana yang sudah kembali ke dayeuh luhur, dengan berita itu penulis merasa ada yang pecah di benak ini semua penantian tidak sia-sia, penulis langsung mengajak untuk beres-beres dan berangkat, hal yang aneh sempet terjadi di sini, pada saat kami sedang membereskan parabot keris, golok, tongkat dan kujang.
Terjadinya pada saat mau memasukan perabot ke tas masing-masing, ada salah satu perabot yang hilang, teman kami yang tadi ngeberesin parabot saling sangka teman satu nyangka kalau kujang itu di satuin sama tongkat di bawa duluan, teman kami yang bilangnya satu hanya bawa tongkat karena kujang dia liat di satuin dengan golok dan keris, kejadian itu membuat kami semua terdiam.
Tak lama penulis mendengar burung besar tadi bilang “Jalu!! andika tong reuwas, si jago tutugan pangrango geus ti heula kulantara rek manggihan sobat dalitna, anu lawas paanggang, mangpang meungpeung, samalahmah kami oge arek nyusul”. Akhir penulis menjelaskan ke teman-teman tentang keberadaan kujang tersebut, dari sana penulis berpikir, apa iya ke sana? Kan mereka yang konon ada di perabot tembus ruang dan waktu, kenapa waktu di rumah seharusnya bisa kesana kemari? Semerawut pikiran’berkecemuk di benak’ pusing ahkk.

Setelah beres dan siap berangkat kami pamitan ke si aki yang punya rumah, benar orang sunda “someah hade ka somah”. Beres pamitan kami melanjutkan perjalanan untuk naik ke dayeuh luhur, kami sempatkan beli bensin dulu karena di perkirakan tidak bakal cukup untuk mendaki rute tersebut, di perjalanan penulis masih sempat berpikir apa benar kujang dari gunung pangrango sudah di atas dayeuh luhur? Teka-teki dalam benak penulis, karena kejadian seperti ini baru kami alami.
Ringkas perjalanan kami sampai ke desa dayeuh luhur dengan perjalanan rute yang panjang dan nanjak dan berbelok-belok, ngeri-ngeri sedap rasanya. Sesampai disana kami istirahat bentar dan langsung mendaki ke atas puncak dayeuh luhur, kami berjalan beriringan posisi gelap karena kami naik sekitar pkl. 9.00 malam, tepat pkl 11.00 malam kami sampai puncak, kami langsung mempersiapkan diri untuk melakukan ritual dan mengajak dialog dengan salah satu penghuni yang tadi memberi kabar, kami di terima oleh tiga orang penghuni dayeuh luhur, kami melakukan dialog dan mempertanyakan kenapa, sampai bisa anak tersebut jadi penghuni gunung kunci, tak lupa kami mengenalkan diri sebagai utusan keluarganya untuk menjemput anak tersebut.
Dialog yang cukup lama karena kami menerima penjelasan asal muasal terjadinya peristiwa sampai ke cucu dan cicit menjadi korban” Nganjuk kudu naur, ngahutang kudu mayar“, itu salah satu perkataan dialog. Setelah semua jelas kami meminta anak tersebut untuk diajak pulang kembali ke keluarganya. Semua penghuni sepakat bahwa silahkan dengan syarat jangan terjadi pemaksaan terhadap anak tersebut, karena kami juga tidak melakukan itu kepada anak tersebut.’
Akhirnya kami sepakat di bertanya bersama, jawab anak tersebut membuat kami geram dengan susah payah kami menempuh perjalanan malah anak tersebut tidak mau untuk pulang karena merasa sudah cocok hidup di dunianya, dan kalaupun pulang ia akan merasa asing dengan suasana yang berbeda. Kami mecoba mebujuk berkali kali, akan tetapi jawabannya tetep sama, dengan mencoba agak keras tetap saja malahan anak tersebut marah dan bilang “ Neupi ka belut sisitan oray jajangjangan moal balik, mun maksa hayu urang pada-pada nyekel sabuk milang tatu”.
Kami disana hanya diem khususnya penulis ko bisa ribet, padahal niatnya kami mau bantu anak tersebut kembali pada keluarganya malah anaknya yang tidak mau. Setelah kami ngobrol dengan pamannya wakil dari keluarganya, kesepakatan untuk kami paksa kalau harus sampai bertarung kamipun sudah siap, penulis ajukan lagi pertanyaan serupa agar anak tersebut ikut bersama kami pulang, anak itu tetep pada pendiriannya ia tidak mau pulang, akhir penulis sepakat berhadapan untuk bertarung, akan tetapi sebelum terjadi perkelahian, tiba-tiba ada yang datang penghuni lain yang lebih berkuasa terhadap tempat itu, sambil mengucapkan salam dan mengatakan yang membuat penulis malu “ heup..heupp heula kisana, nanaon ieu teh, ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala sajeungkal, lamun bisa keneh laukna beunang caina herang bet naha make di ider”. “Kumaha lamun ku mama eta budak teh urang di omongan ke boh hade boh goreng di sampekeun ka hideup, yeuh ceuceukalan mama bawa ke dina waktuna ku mama di bejaan teu kudu kadieu ke dianterkeun lamun daekeunmah, da satadina oge ngalubarkeun jangji anu aya patula patalina jeung ieu buyut-buyutna budak, era atuh lain harti mama lauk buruk milu mijah piritan milu endogan, ngan tadi ceuk mama oge ngarah laukna beunang caina herang, jug bral mudah-mudahan kaharepna majing kana waktu nu mustari. Mama oge apal yen anjeun sakabeh wawakil ti medal karang pamulihan”.
Setelah terjadi kesepakatan dengan pihak sana akhirnya kami tim uka-uka sepakat untuk pulang dan nunggu kabar dari pihak dayeuh luhur, tidak lupa penulis menanyakan tentang keberadaan ki pangrango/kujang yang katanya sudah duluan nyampai disini, “ Ki pangrango puguh enya, tadi basa wanci isya anjogna, tuh geura aya di bale-bale bisik rek di ajak mulangmah”. Setelah penulis mengontaknya ternyata tidak jauh dari kami sekitar satu meter setangah, ki pangrango yang bentuk kujang buruk rupa menacap pas di depan pohon yang tidak jauh dari kami, setelah penulis cabut kami pamitan pulang dan siap untuk nagih janji tentang perhitungan pembatalan janji buyut leluhurnya keluarga teman kami.
Dalam perjalan pulang kami tidak banyak mengalami gangguan tidak seperti halnya pada saat mulai perjalanan, banyak hal teknis yang tidak masuk di akal terjadi untuk menghalangi perjalan pemberangkatan, alhamdulillah perjalan pulang lancar, justru saking lancar aneh perjalanan hanya memakan waktu satu jam pun kurang, kami sudah nyampe rumah guru kami, kami turun jam setangah dua belas dari puncak dayeuh luhur jalan kaki sampe ke kantor desa, berhenti istirahat sebentar sambil melepas lelah, terus berangkat pulang jam setengah satu kami sudah sampai rumah guru kami, padahal sumedang bandung bisanya di tempuh paling cepat satu jam setengah, kami turun dari puncak saja setengah dua belas, setengah satu sudah di bandung. Kekuasan Allah memang tidak terbatas, ruang dan waktu.


Bersambung.... (Bagian 4)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...