Memutuskan Perjanjian (Bagian 3)
Setelat lewat
waktu isya, baru kami mendapat kabar kalau ada sebagaian penghuni sana yang
sudah kembali ke dayeuh luhur, dengan berita itu penulis merasa ada yang pecah
di benak ini semua penantian tidak sia-sia, penulis langsung mengajak untuk
beres-beres dan berangkat, hal yang aneh sempet terjadi di sini, pada saat kami
sedang membereskan parabot keris, golok, tongkat dan kujang.
Terjadinya pada
saat mau memasukan perabot ke tas masing-masing, ada salah satu perabot yang
hilang, teman kami yang tadi ngeberesin parabot saling sangka teman satu
nyangka kalau kujang itu di satuin sama tongkat di bawa duluan, teman kami yang
bilangnya satu hanya bawa tongkat karena kujang dia liat di satuin dengan golok
dan keris, kejadian itu membuat kami semua terdiam.
Tak lama penulis
mendengar burung besar tadi bilang “Jalu!!
andika tong reuwas, si jago tutugan pangrango geus ti heula kulantara rek
manggihan sobat dalitna, anu lawas paanggang, mangpang meungpeung, samalahmah
kami oge arek nyusul”. Akhir penulis menjelaskan ke teman-teman tentang
keberadaan kujang tersebut, dari sana penulis berpikir, apa iya ke sana? Kan
mereka yang konon ada di perabot tembus ruang dan waktu, kenapa waktu di rumah seharusnya
bisa kesana kemari? Semerawut pikiran’berkecemuk di benak’ pusing ahkk.
Setelah beres
dan siap berangkat kami pamitan ke si aki yang punya rumah, benar orang sunda “someah hade ka somah”. Beres pamitan
kami melanjutkan perjalanan untuk naik ke dayeuh luhur, kami sempatkan beli
bensin dulu karena di perkirakan tidak bakal cukup untuk mendaki rute tersebut,
di perjalanan penulis masih sempat berpikir apa benar kujang dari gunung pangrango
sudah di atas dayeuh luhur? Teka-teki dalam benak penulis, karena kejadian
seperti ini baru kami alami.
Ringkas
perjalanan kami sampai ke desa dayeuh luhur dengan perjalanan rute yang panjang
dan nanjak dan berbelok-belok, ngeri-ngeri sedap rasanya. Sesampai disana kami
istirahat bentar dan langsung mendaki ke atas puncak dayeuh luhur, kami
berjalan beriringan posisi gelap karena kami naik sekitar pkl. 9.00 malam, tepat
pkl 11.00 malam kami sampai puncak, kami langsung mempersiapkan diri untuk melakukan
ritual dan mengajak dialog dengan salah satu penghuni yang tadi memberi kabar,
kami di terima oleh tiga orang penghuni dayeuh luhur, kami melakukan dialog dan
mempertanyakan kenapa, sampai bisa anak tersebut jadi penghuni gunung kunci,
tak lupa kami mengenalkan diri sebagai utusan keluarganya untuk menjemput anak
tersebut.
Dialog yang cukup
lama karena kami menerima penjelasan asal muasal terjadinya peristiwa sampai ke
cucu dan cicit menjadi korban” Nganjuk
kudu naur, ngahutang kudu mayar“, itu salah satu perkataan dialog. Setelah
semua jelas kami meminta anak tersebut untuk diajak pulang kembali ke
keluarganya. Semua penghuni sepakat bahwa silahkan dengan syarat jangan terjadi
pemaksaan terhadap anak tersebut, karena kami juga tidak melakukan itu kepada
anak tersebut.’
Akhirnya kami
sepakat di bertanya bersama, jawab anak tersebut membuat kami geram dengan
susah payah kami menempuh perjalanan malah anak tersebut tidak mau untuk pulang
karena merasa sudah cocok hidup di dunianya, dan kalaupun pulang ia akan merasa
asing dengan suasana yang berbeda. Kami mecoba mebujuk berkali kali, akan
tetapi jawabannya tetep sama, dengan mencoba agak keras tetap saja malahan anak
tersebut marah dan bilang “ Neupi ka
belut sisitan oray jajangjangan moal balik, mun maksa hayu urang pada-pada
nyekel sabuk milang tatu”.
Kami disana
hanya diem khususnya penulis ko bisa ribet, padahal niatnya kami mau bantu anak
tersebut kembali pada keluarganya malah anaknya yang tidak mau. Setelah kami
ngobrol dengan pamannya wakil dari keluarganya, kesepakatan untuk kami paksa
kalau harus sampai bertarung kamipun sudah siap, penulis ajukan lagi pertanyaan
serupa agar anak tersebut ikut bersama kami pulang, anak itu tetep pada
pendiriannya ia tidak mau pulang, akhir penulis sepakat berhadapan untuk
bertarung, akan tetapi sebelum terjadi perkelahian, tiba-tiba ada yang datang
penghuni lain yang lebih berkuasa terhadap tempat itu, sambil mengucapkan salam
dan mengatakan yang membuat penulis malu “ heup..heupp
heula kisana, nanaon ieu teh, ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala
sajeungkal, lamun bisa keneh laukna beunang caina herang bet naha make di ider”.
“Kumaha lamun ku mama eta budak teh urang
di omongan ke boh hade boh goreng di sampekeun ka hideup, yeuh ceuceukalan mama
bawa ke dina waktuna ku mama di bejaan teu kudu kadieu ke dianterkeun lamun
daekeunmah, da satadina oge ngalubarkeun jangji anu aya patula patalina jeung
ieu buyut-buyutna budak, era atuh lain harti mama lauk buruk milu mijah piritan
milu endogan, ngan tadi ceuk mama oge ngarah laukna beunang caina herang, jug
bral mudah-mudahan kaharepna majing kana waktu nu mustari. Mama oge apal yen
anjeun sakabeh wawakil ti medal karang pamulihan”.
Setelah terjadi
kesepakatan dengan pihak sana akhirnya kami tim uka-uka sepakat untuk pulang
dan nunggu kabar dari pihak dayeuh luhur, tidak lupa penulis menanyakan tentang
keberadaan ki pangrango/kujang yang katanya sudah duluan nyampai disini, “ Ki pangrango puguh enya, tadi basa wanci
isya anjogna, tuh geura aya di bale-bale bisik rek di ajak mulangmah”.
Setelah penulis mengontaknya ternyata tidak jauh dari kami sekitar satu meter
setangah, ki pangrango yang bentuk kujang buruk rupa menacap pas di depan pohon
yang tidak jauh dari kami, setelah penulis cabut kami pamitan pulang dan siap
untuk nagih janji tentang perhitungan pembatalan janji buyut leluhurnya
keluarga teman kami.
Dalam perjalan
pulang kami tidak banyak mengalami gangguan tidak seperti halnya pada saat
mulai perjalanan, banyak hal teknis yang tidak masuk di akal terjadi untuk menghalangi
perjalan pemberangkatan, alhamdulillah perjalan pulang lancar, justru saking lancar
aneh perjalanan hanya memakan waktu satu jam pun kurang, kami sudah nyampe
rumah guru kami, kami turun jam setangah dua belas dari puncak dayeuh luhur
jalan kaki sampe ke kantor desa, berhenti istirahat sebentar sambil melepas
lelah, terus berangkat pulang jam setengah satu kami sudah sampai rumah guru
kami, padahal sumedang bandung bisanya di tempuh paling cepat satu jam setengah,
kami turun dari puncak saja setengah dua belas, setengah satu sudah di bandung.
Kekuasan Allah memang tidak terbatas, ruang dan waktu.
Bersambung.... (Bagian 4)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar