Selasa, 31 Juli 2018

TENTANGKU BINTANGMU 3


Hidup tak selalu mengajariku tentang banyak keyakinan. Pada sebagian kisahnya, kerap ada ragu di pendirianku. Ada soal yang sering kuberi tanda tanya dan isyarat bimbang di ujungnya. Ia datang entah darimana, ia menggoda dalam bentuk apa.
Aku tak tahu. Jikapun ini kukatakan kepadamu, tak akan bergeser caraku menghayati keberadaanmu. Tak akan melemah dayaku menggenapi tulusnya sayangmu.
Aku menemukan banyak tanda di katamu, dengan ujaran yang seolah tak lagi melegakan. Dengan sapaan yang nihil menenangkan. Semisal benda asing bagi kesadaranku, ia menjadi lagu yang tak sempurna di pendengaranku.
Iramanya tak lagi mengabarkan pesan menggembirakan. Gemanya tak lagi memantul menjejakkan isyarat kepercayaan.

MARI BERSEPEDAH 3



Beragama adalah aqal. Kenapa aqal? Karena ia bisa menuntun siapapun untuk berpikir benar. Berpikir benar itu menentukan, menganalisis dan membedakan antara yang asli dan palsu. Antara yang nyata dan samar. Antara yang hak dan bathil. Tetapi berpikir benar belum tentu menjadi jaminan orang bertindak baik. Dengan itu yang paling penting dari berpikir adalah menemukan yang baik bahkan yang-paling baik sebagai alas untuk bertindak (beramal).
Aqal beragama dengan itu tidak hanya dipahami sebagai reason atau nalar dalam pengertian filsafat logika (yang mengatur hukum-hukum berpikir semata) tetapi kemampuan yang dianugrahkan Allah kepada manusia untuk menemukan alasan untuk bertindak paling-baik. Yang-paling-baik menurut tuntunan Guru adalah yang "menyelamatkan". Inilah makna dari tuturan nadhom yang menyatakan "aqal luru dalan keselamatan".
Aqal beragama adalah aqal yang menyelamatkan. Aqal yang dimiliki orang beriman sebagai modal memperoleh kualitas taqwa. Kualitas tertinggi dalam level beragama yang ditegaskan al-Quran. Aqal yang menyelamatkan hanya mungkin beroperasi jika ia ditopang oleh qolbu (hati). Di sini, qolbu seumpama pengadil atau wasit yang mengontrol dan menakar batasan dan tindakan yang menyelamatkan itu.

Senin, 30 Juli 2018

TENTANGKU, BINTANGMU 2


Hujan ini tak pernah berhenti mengunjungiku. Dengan dingin yang hampir sama. Dengan butirannya yang tak pernah bosan mengirimkan pesan.
Kawanku.
Entah di stasi mana kita bisa pungkas mendedah cerita. Menguras sejuta kemungkinan untuk sekedar bertahan dalam gemuruh keberanian juga gelapnya ketakutan. Pada setiap bagiannya, aku menyangka selalu ada tunastunas baru yang tumbuh. Kerap ada bungabunga aneka warna yang memaksa harapan untuk terus diwiridkan. Teguh dipertahankan.
Kamu tahu, pada setiap detik kisahnya kita selalu diingatkan untuk tak boleh lengah menajamkan awasnya penglihatan. Tak boleh beringsut menghitung tanda bahaya yang bisa membuat kita terluka juga menderita.
Hujan ini tak pernah berhenti mengunjungiku. Dengan gigil yang hampir sama. Dengan curah yang tak pernah lalai menitipkan kunci rahasia.

Minggu, 29 Juli 2018

MARI BERSEPEDAHLAH 2

Dalam konteks perjuangan bahkan dalam usaha membebaskan negara dari cengkraman penjajahan, keterlibatan Syeikhuna tak bisa ditampik. Linggar Jati bahkan kemerdekaan RI adalah peristiwa yang seharusnya dicatat sejarah sebagai bukti pengabdian dan perjuangannya kepada negara.
Sayangnya, sejarah abai terhadap keterlibatan itu. Buku dan data-data sejarah tak mencatat segorespun. Negara melupakan. Negara menyingkirkan Syeikhuna di pentas perjuangan kemerdekaan. Tapi layaknya orang suci lainnya, Syeikhuna tak membutuhkan pengakuan. Tak memerlukan sanjungan dan catatan. Pengabdian dan perjuangan yang tulus tak membutuhkan sebutan pahlawan yang biasa disematkan.

Sabtu, 28 Juli 2018

TENTANGKU BINTANGMU

Lama aku tak menyapamu.
Bukan karena ingatan yang tibatiba menghindar. 
Bukan karena rindu yang tak lagi membatin dalam jiwaku. 
Ini hanya soal cara ketika pikiran kubiarkan sejenak menjiarahi banyak peristiwa.
Menelisik setiap kemungkinan dan belajar dari berbagai hal yang kerap menerpa kita.  
Amuk rasa di jiwaku memerlukan rehat Bintangku. 
Membutuhkan nutrisi dan cara penglihatan yang baru. 
Sehingga cinta yang selalu kita lafadzkan berulangulang tak terbuang menjadi sekadar percuma. Sehingga kepercayaan yang selalu kita pancangkan tak menjadi sekadar basi dan tak berisi.

Kamis, 26 Juli 2018

Sorge Kamu saja


Kau hidupkan banyak hariku dengan tenaga yang ingin selalu aku pelihara.
Bahkan ketika amuk rasa seolah ganjil untuk aku nalar.
Maka catatanku tiba-tiba menjelma menjadi dalih supaya keberadaanmu tetap mengada.
Utuh terpelihara. Kau akan ada di sini. Dengan tanda yang mungkin tidak selalu sama.
Tapi dengan kepastian yang tak ingin aku sangsikan.
Sebab matahari tak mungkin menemui jika tak ada pagi yang layak untuk disambangi.

Rabu, 25 Juli 2018

Shadow of Destiny

In the excitement and success of the business, rarely comes the question of destiny; for in our minds, joy and success is neither a fault nor a crime. Excitement and success is the culmination of our hard-fought success, destiny never speaks of happiness and success.

MARI BERSEPEDALAH


Bersepedalah. Ini laku Guru terdahulu. Kebiasaan baik yang tidak hanya melatih dan menempa badan supaya bugar dan sehat tidak juga sekadar "melatih" menajamkan kepekaan dan resfek terhadap apa yang nampak dan tidak tapi juga laku yang memiliki alasan dan pijakan yang kuat sebagai cara menjaga, memelihara dan menyeimbangkan kerja aqal, qalbu dan metabolisme.
Bersepedalah. Kayuhan demi kayuhan adalah laku syariat. Tuntunan mengajarkan begitu bahwa beragama bahkan juga aktivitas hidup yang lainnya menuntut siapapun untuk menunaikan apa yang seharusnya. Kayuhan adalah niat sekaligus usaha untuk meraih dan usaha mewujudkan sesuatu.Tak mungkin tujuan ditemukan. Mustahil cita-cita diwujudkan jika kayuhan tak dilakukan.
Hidup sebagiannya adalah usaha juga kerja. Niat dan kesungguhan mengerjakan apapun yang menjadi kewajiban kita. Kayuhan adalah tempaan. Keringat yang mengucur deras. Betis kaki yang mengeras. Tangan memegang kendali. Dan mata yang awas ke depan. Cita-cita itu di depan. Mungkin dekat. Mungkin jauh. Tujuan itu ada di hadapan. Dengan kayuhan ia didekati. Dengan usaha yang tak kenal lelah bersama kesungguhan hidup adalah rangkaian perjuangan usaha yang nyata.

BERSATU JADI TEGUH

"Ayo batur gage kumpul jadi siji yen kepengen jadi umat kanjeng nabi"
Tuturun Guru di atas adalah seruan juga ajakan. Guru menyeru supaya umat ini berhimpun dalam satu shaf yang satu. Guru mengajak supaya umat ini menjadi umatan wahidatan yang meneguhkan diri menjadi pionir dalam kebersamaan dan kekompakan yang menyeru dan mengajak amar makruf dan nahyi munkar.
Umat kanjeng nabi tak mungkin bercerai berai. Umat kanjeng nabi mustahil mengambil posisi masing-masing. Umat kanjeng nabi berdiri kompak memegang panji misi dan bendera cita-cita yang sama. Umat kanjeng nabi memegang teguh isyarat al-Qur'an tentang keharusan berpegang teguh pada tali Allah:
واعتصموا بحبل الله جميعا ًولا تفرقوا. . . .
Dalam kerangka Asy-Syahadatain, "tali Allah" (حبل الله ) itu adalah tuntunan yang benihnya telah disemai secara purna oleh Sayyid Umar bin Ismail bin Yahya sebagai faunding father. Pemahaman yang utuh disertai kepatuhan kepada tuntunan itu memustahilkan umat Asy-Syahadatain untuk berdiri masing-masing, bertafarruq dan tak mau bersatu.

Kerinduan yang sepi

Kerinduan yang sepi. 
Ingatan yang sunyi. 
Dan engkau menamakannya begitu. 
Seluruhnya seolah menikam ketika matahari menjelang sampai gelap berjumpa di malam. 
Tapi mungkin hidup memerlukan kesediaan untuk bertemu. 
Berbagi janji dengan rasa ngeri. 
Termasuk ketika keinginan tak sampai diwujudkan. 
Juga ketika air mata tumpah di pusaran sajadah. 
Tak apa.....

Butterfly

You blacken my sky silently
After the death of a crow that came down this afternoon
Then my strength complained somewhere
Because it was obstructive to block the foot on the foot
You're the one who comes silently

Lonely longing

Lonely longing.
Silent memory. D
You named it that way. 
The whole thing seemed to be stabbing as the sun was getting dark until it met at night.
But maybe life requires a willingness to meet.
Share appointments with horror.
Including when the desire is not realized.
Also when tears spilled in the vortex of prayer rugs.
No problem.
The world will not run out of space as well as the opportunity to achieve the desire.

Senin, 23 Juli 2018

Kau kisahkan ini kepadaku, ketika kantuk menggodaku


Kujemput waktuku dengan janji. 
Sebab aku ingin bergegas menyapa elok parasmu di bawah jarum jam yang letaknya tepat di tengah. Di tikungan kota, aku gugup menunggumu dengan keringat yang masih basah terengah. 
Di penantianku, kutatap nyalak gerombolan manusia mengejar hidup dengan ludah. 
Memimpikan kemewahan di lembaran uang. Meneriakan makian di tenggorokkan. 
Mengunyah kalimat umpat dengan amsal binatang.

Minggu, 22 Juli 2018

KeTakSengajaan

Apakah yang diketahui bunga tentang hujan?
Pertanyaan ini kudapati ketika air tumpah dari langit di suatu sore. 
Aku menemukannya tak sengaja, seperti angin menyisir kulit begitu saja dan menyapa sepoi belakang telinga. 
Apakah bunga persis tahu bahwa hujan akan turun ketika mendung di langit tampak tersusun?

Perkara ini kutemui ketika ketaksengajaan beralih rupa menjadi isyarat. 
Aku hanya sedang memungut tanda-tandanya. 
Mengumpulkan serpihan keyakinan dari jejak hidup yang akhir-akhir ini menghampiriku.

Do'a Untuk Seorang Teman


Pintu kamar kubiarkan terbuka, menghadap malam yang merangkak diam-diam. 
Seperti lamunanku tentang pesanmu yang datang bersusulan dari siang hingga senja kehilangan warna. Entah dimana jejak kakimu. 

Bagaimana rupa wajahmu. Aku hanya mengamati melalui tulisan, membaca melalui aksara yang kau kirimkan di sela petir, di samping angin dan gigil air hujan. 

Jumat, 20 Juli 2018

PERSAKSIANKU

Berbalut hujan yang tak lekas meninggalkan gigil, aku menyapa ingatan malam ini. 
Menziarahi setiap jamuan dengan do’a dan harapan. 
Membayangkan kehadiran sebuah nama yang tak surut lekang. 
Pada saatnya, kita seperti diburu oleh hasrat kehidupan. 
Dikejar oleh setiap napas yang menjalar.  
Seperti kau tahu, kita dipertemukan oleh sejarah. 
Disatukan oleh hukum kehidupan yang mengolah suka menjadi cinta. 
Dihunus takdir untuk memelihara mimpi dan sisa gelora Adam terhadap Hawa.

Kamis, 19 Juli 2018

UNTUKMU KEJORA


Untuk Kamu: Kejoraku

Siapa yang memulai sapa kukira hanya persoalan dalam kata. 

Aku mengenalmu, lalu sedikit sempat merindukanmu, dan sekarang kehilanganmu. 
Hanya itu yang aku tahu. Tapi tetap saja ia kembali menjadi persoalan semu dalam jelajah waktu. Tidak semua perihal tentu, adalah hal yang biasa. 
Hidup bertahun rasanya cukup untuk mengajarkan bahwa rasa berawal dari peristiwa, ingatan bermula dari kejadian, dan apa yang pernah terbayangkan tidak selalu jujur dalam kenyataan. 

Kuharap ini menjadikan kejujuranku tidak keluar dari kebiasaan. Dan jika detik ini lembaranku menjumpaimu dengan paraghraf yang haru, itu lebih dikarenakan aku takut kembali kehilangan kamu. Ah, hanya itu..

YANG HILANG TANPA BAYANGAN (Badirian, Pabrik gula dan Kenangan)

Usiaku 12 kala itu.. saat angkot Kuning beringsut seperti malas menuju Majalengka (Cigasong). 
Tentu saja aku mengerti, sang pengemudi tidak ingin angkot ini berisi diriku saja. 
Oh, aku lupa, seorang kakek dengan bakul berisi sayuran pulang dari pasar kadipaten, yang sudah lebih dulu duduk di pojok jendela. 
Maaf, tidak terbiasa menganggap angkatan tua sebagai saingan, jadi tidak kuhitung. 
Angkot, di usiaku 12, masih ramah. 
Tidak seperti hari ini; menyalip dan menelikung hingga pengendara motor, harus terkencing-kencing menginjak rem, dengan segenap upaya menghentikan laju ban agar tidak mencium bumper belakangnya (angkot goblog!).

Usiaku 12 kala itu.. aku tidak pernah menikmati perjalanan dari Kadipaten menuju Majalengka. 

Apalagi jika itu harus terjebak dalam deru bising knalpot angkot dan bau Topi Miring mulut sopir yang terus berteriak: Gasong... Gasong (majalengka).. 

Rabu, 18 Juli 2018

BERLALU


Sampai dimanakah? Sedang aku tak sanggup lagi menghitung waktu. 
Sebab duri semakin terpanggang di sela kaki.
Sebab kenyataan seolah menutup rongga pernafasan.
Bersabar pada sejarah atau membayangkan kehidupan mudah didamaikan bisa menyebabkan kita sangsi dengan kemampuan sendiri.
Tapi aku tidak sedang menantang Tuhan,
sungguh!!! Menghunus belati untuk menusuk di pusat jantung-Nya. 
Aku hanya sedang mengintip kesempatan. 
Memuliakan keinginan seperti yang kau tahu muasal ceritanya.

Harusnya Dengan Titik

Lembarannya seolah purna tersusun. Ia menjelma di hadapan sejarah dengan jilid dan penampilan sarat pesona. 
Sungguh, kita pungkas menciptanya. Seperti tak ada cacat juga cela di dalamnya. 
Tapi, bisakah manusia congkak dari hukum kepatutan. Dapatkah manusia sembunyi dari ancaman dan sindiran kepantasan? 
Pada saatnya, ada luka yang sebenarnya sedang dipelihara. Ada raung kesakitan yang diam-diam mengintip menuntut pelepasan. 
Manusia hanya tak menyadarinya. Sebab akal juga kesadaran dibiarkan tersandera atas nama godaan kesementaraan. 
Atas nama kulit yang membungkus... Atas nama cangkang.....

Manusia terpenjara berkali-kali oleh ribuan terali. Oleh hasutan kesan yang seolah menjadi inti kenyataan. 
Oleh mantera yang dikira alasan yang bisa dipertanggungjawabkan... 
Duhai, jiwa manusia telah kerdil dan lupa dengan terang yang menyelamatkan. 
Manusia takluk pada gulita yang menyebabkan kesadaran dan nurani menjadi buta. 
Duhai, kaki manusia setiap langkahnya berjalan di atas bara. 
Dengan luka, dengan perih yang setiap ayunan tak kunjung tersembuhkan. 
Jejak manusia menjadi penanda untuk nista yang pasti ada balasnya, kelak.

Setiap perjalanan atas nama kesementaraan tak harus tuntas hingga ujungnya. Ia harus dipaksa rehat atas nama kesejatian dan keharusan hukum kehidupan. 
Biarlah yang sementara menunda keinginannya. 
Relakan saja yang tak patut menemui ajalnya. Di titik akhir dengan selesai.

De Also Layang Kusumah



Baca juga catatan yang berjudul Entahlah.. isinya lumayan

Entahlah

Kita telah menanamnya ribuan kali. Dengan keyakinan yang kau sarungkan. 
Yang kau taburi tiap benihnya dengan sangka dan keharusan yang juga kita siangi tiap pagi. 
Tak kudapati curah keringat di keningmu atau keluh jemu yang jatuh. 
Kau hanya berujar bahwa ada saat ketika musim menuai tak lagi jauh. 
Mungkin sedepa. Atau hanya sehasta di belokan jalan itu. “Kau hanya perlu berdo’a,” seperti katamu.

Lalu aku diam menghitung kesempatan. 
Mengintip tuah takdir dari saku Tuhan. Mungkin ada aku di situ. 

YANG TAK TERSELESAIKAN

Matahari tak terang benar hari ini. Mungkin hujan sedang mengintip celah untuk jatuh. Lalu aku hanya bisa diam seusai tuntas pekerjaan. Apa gerangan yang menjadi tanda bagi setiap peristiwa. Bagaimana soal ketika hidup hanya berjalan di tempat yang sama. Lalu apa gunanya doa, tentang pinta yang seolah kehilangan makna? Nalarku gagap menjawab tanya. Pikirku gigil menelisik banyak hal yang kerap mengganggu manusia.

Yang-tak selesai. Seolah datang dengan wajah yang persis sama. Seperti kata dengan amar yang tegas menuntut genap  dan harus rampung hingga di ujung. Seumpama belati yang mengancam. Menghindar atau menjauh seolah fatamorgana yang ketika didekati berubah warna dengan ajakan dan pesan yang diulang-ulang. Yang-tak selesai seperti nujum atau kutukan yang tertanam jauh di sana. Tak bisa berubah dan dengan sendirinya menolak untuk pudar. Seolah rajah yang terukir, ia abadi mendiami. Ia kukuh menoreh sesal di suatu senja, dan menciptakan air mata di suatu malam.

SiapakahKita

Kau sampaikan kalimat berulang, sebab telingaku tak cermat waktu itu.
Kau tahu, ceruk pikirku selalu tak mudah terisi namamu.
Tetap saja, teriakmu datang bahkan ketika mulutku enggan bersuara.
Selalu ada tanya yang menguntit, tapi telunjukmu
seolah lembing yang mengancam.
Diamdiam aku tertikam di hitungan berkalikali.
Genang darah lengkap memenuhi.

Pernahkah kau menebak rasa muakku?
Seperti ceceran bangku yang menampik dirapihkan
Seumpama deret nada yang menolak dilagukan.
Gelegak amarahku redup mengulang, ketika kau merapat
dengan tangan melipat. Seperti kukuh.
Seumpama jarum jam yang berlari di hitungan angka.

DETIK-DETIK KEMATIAN RASULLAH

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

INILIHA KITA

Inilah kita. Tapi kau tak persis sama setiap harinya. Kau lantas berkilah bahwa hidup adalah lompatan. Sebuah organisma yang bertumbuh terus tentang ketidakajegan. Tentang bagaimana tanda tidak pernah mengada di tempat yang sama. Dikenali persis setiap biliknya. Kukuh merengkuh keabadian: Ia berkembang. Ia menjauh dan menampik berhenti menemu titik sempurna yang entah dimana.

Aku mendapatimu tak bisa diam. Juga rasaku seperti tak sama setiap masanya. Apakah ini? Apakah yang bergolak di langit asmara kita? Kau mungkin dekat tapi bayang cintamu bergegas menjauh ke ufuk nun di sana. Seolah tak kerasan menghitung niat dan keinginan. Pikirku, aku gagal memburu waktu, menghitung menit dan detik. Aku bukan seperti yang kau sangka, lelaki dengan tenaga: Aku adalah mimpi yang tetirah tanpa sengaja.

MA'RIFATULLAH

MA'RIFATULLAH
Oleh : De Also Layah Kusumah

Ma'rifatullah atau mengetahui Allah itu meniscayakan perantara. Bisakah kita mengetahui Allah secara langsung? 
تفكروا فى خلق الله ولا تفكروا فى ذاته
"Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan kamu berpikir tentang dzatnya"

Hadits di atas menegaskan ketidakmungkinan dan kemustahilan kita mengetahui Allah. Yang mungkin dan bisa dilakukan dalam proses ma'rifatullah adalah memikirkan ciptaan-Nya (مخلوق). Siapa ciptaannya? Alam semesta dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya itulah ciptaan Allah. Dengan memikirkannya kita akan diantarkan untuk mengetahui Allah azza wajalla.
Adakah cara lain untuk memaknai siapa itu ciptaan yang ketika kita memikirkannya kita akan diantarkan pada proses ma'rifatullah? "Ciptaan" itu tiada lain adalah para utusan Allah. Dialah nabi dan rasul. Persis, kehadiran nabi dan rasul adalah kabar gembira (بشيرا) sekaligus peringatan (نظيرا ) tentang keharusan manusia percaya dan mengikutinya sebagai jalan pada proses ma'rifatullah.
Jadi, proses untuk ma'rifatullah meniscayakan kita untuk ma'rifatu rasulullah. Tak ada ma'rifatullah tanpa ma'rifatu rasulullah. Rasul adalah ciptaan yang menjadi perantara mengenal Allah. Selesaikah sampai di situ?

SIAPA TUANMU? (Catatan Akhir Ramadhan)

SIAPA TUANMU? (Catatan Akhir Ramadhan)
Oleh : De Also Layang Kusumah

Gerak aqal itu memampukan siapapun untuk sampai tidak hanya di masa lalu tapi juga bisa menuntun seseorang untuk menjumpai masa depan. Aqallah yang menyuntikkan darah segar bagi sejumlah kemajuan dan perubahan. Dialah yang mampu membuka selubung kemustahilan menjadi sesuatu yang mungkin dan pasti terjadi.
Tapi aqal tak bisa bekerja sendirian. Ia bukan pendekar sakti yang entah datang dari mana lalu bisa menaklukan setiap musuh tanpa bantuan. Ia bukan keajaiban an sich yang dengannya seluruh perkara bisa diselesaikan. Aqal membutuhkan topangan. Meniscayakan alas dan fondasi kokoh supaya ia tegak tak mudah goyang.
Iman itulah fondasinya. Iman itulah titik pijaknya. Iman itulah alasnya. Mari belajar menautkan aqal pada iman serekat mungkin. Seteguh mungkin supaya aqal yang kita punya tak gampang sempoyongan dan limbung saat ujian dan badai kehidupan menghantam. Bisa ora bisa akalana.

SEHATNYA AQAL, QALBU DAN METABOLISME

SEHATNYA AQAL, QALBU DAN METABOLISME
Oleh : De Also Layang Kusumah

Sebuah tutur agama menegaskan bahwa "mukmin yang kuat lebih dicintai dan disukai Allah ketimbang mukmin yang lemah" (المؤمن القوي خير واحب الى الله من المؤمن الضعيف). Kekuatan adalah isyarat keunggulan. Kekuatan menjadi modal penting tidak hanya dalam laku bragama tetapi juga dalam konteks yang lebih luas.
Apakah kuat dalam tutur agama di atas berkaitan dengan fisik, tubuh? Bisa jadi. Seorang mukmin haruslah sosok yang kuat fisiknya yang menjadi modal utama dalam beribadah dan beramal. Tetapi kita bisa lebih luwes untuk memaknai kuat di atas dengan "sehat". Lalu kita bisa mengubah tutur agama di atas dengan, "mukmin yang sehat lebih dicintai Allah daripada pada mukmin yang sakit".
Sehat apanya? Tentu saja sehat fisiknya. Fisik yang sehat (juga kuat) memampukan siapa pun untuk melaksanakan perintah agama terutama berkaitan dengan ibadah. Karena itulah agama memberikan isyarat bahwa bagi orang yang sakit ada keringanan (rukhsoh) dalam beribadah.
Pertama-tama tentu saja sehat fisiknya. Tetapi jika kita meyakini bahwa kedirian manusia (manusia yang utuh) itu dikenali berdasarkan konsep 3 draft. Maka sehat yang dimaksud adalah "sehat-aqalnya", "sehat qalbunya" dan "sehat-metabolismenya".

Senin, 16 Juli 2018

PENANGKAL PELET


CIRI-CIRI ORANG TERKENA PELET
Banyak cara untuk melihat dan menidetifikasi orang yang sedang terkena pelet ataupun sihir.
Tanda-tanda orang yang terkena pelet bercirikan tidak pernah berfikir sehat terobsesi dengan seseorang, yang munculnya keingin nafsu untuk berhubungan intim dengan orang tersebut, sering mimpi dan mengigau, ada kalanya mengeluarkan air mata pada saat mengingat seseorang tersebut, kehilangan gairah makan atau minum, saat ngobrol kadang tidak nyambung, suka menyendiri dan mengurung diri dalam kamar, mengeluh sakit kepala lewat jam 10 malam dan pada saat bangun tidur, sering terbangun tengah malam merasa gelisah atau kebingungan, tidak memperdulikan orang sekitarnya, serta tidak mendengar nasihat dari orang sekitar. Itulah beberapa ciri orang yang terkena serangan pelet.
Kalau  dibiarkan terus menerus, akan berdampak buruk bagi si penderita, orang yang terkena pelet ini sangat menderita karena dari perubahan perilaku ia merasa begitu terganggu sekali dan hal itu pun akhir akan merepotkan keluarga atau orang di sekitarnya.

 

CARA MENGHILANGKAN PELET

Minggu, 15 Juli 2018

DAMPAK ILMU PELET


ILMU PELET

Ilmu Pelet menurut umum ialah satu ilmu yang digunakan untuk mempengaruhi seseorang supaya orang tersebut menyukainya. Pelet bersifat memaksa dan keras, orang yang terkenan akan secara tiba-tiba menyukai orang yang mengirimkan pelet. Pelet bisa di gunakan untuk hal-hal yang negatif. Beda dengan pengasihan, kalau asihan walau sama untuk mempengaruhi tapi asihan tidak bisa untuk hal yang negatif contoh untuk menghacurkan rumah tangga orang, dan asihan sifatnya lembut.
Pelet biasanya digunakan untuk hal-hal negatif. Tapi ada pula yang menggunakan pelet untuk kebutuhan hidup dan bertujuan baik, yaitu untuk menyatukan kembali pasangan atau mengharmoniskan rumah tangga di ambang kehancuran lantaran salah satunya selingkuh, dan sebagainya.
Sebenarnya, semua ilmu sifatnya netral, termasuk di dalamnya ilmu pelet. Hanya saja pelet jadi negatif karena keseringan digunakan untuk hal-hal yang merugikan orang lain. Pelet kebanyakan hanya untuk memuaskan nafsu saja. Akan tetapi negatif dan positif tergantung ke si pengunanya saja.

CIRI-CIRI ORANG TERKENA PELET

Banyak cara untuk melihat dan menidetifikasi orang yang sedang terkena pelet ataupun sihir.

DAMPAK POSITIF PERTENGKARAN RUMAH TANGGA


Rumah tangga merupakan sebuah ikatan sakral yang diharapkan hanya terjadi satu kali dalam kehidupan. Tidak ada yang ingin rumah tangganya hancur atau berhenti sebelum kematian memishkan, setiap orang tentu saja menginginkan jika biduk rumah tangga yang dijalaninya dengan pasangan dapat berjalan bahagia dan langgeng hingga usia tua.
Rumah tangga akan langgeng apabila  ketika dirasakan pasangan kuat dan dan tidak tergoyahkan meski badai dan cobaan mencoba menghancurkan biduk rumah tangga tersebut. hal inilah yang akan dapat bertahan lama dan senantiasa dihiasi dengan cinta dan kebahagiaan. Akan tetapi, tidak sedikit pasangan yang mengalami kasus hancurnya rumah tangga, walaupun telah menjalani hubungan rumah tangga yang cukup lama. Rupanya kasih sayang dan cinta yang didapatkan nyatanya tidak seindah dan sekuat dulu.

Sabtu, 14 Juli 2018

RUQIAH/MEMBERSIHAKAN TEMPAT ANGKER


Penulis hanya ingin berbagi untuk yang akan melakukan pembersihan rumah dengan menggunakan metode Ruqiah/ruwatan tempat.
Dalam setiap tempat banyak hal unik yang dan ganjil ada energi positif dan energi negate termasuk rumah, apalagi bangunan yang sudah lama tidak di pakai atau kosong kecenderungan mengandung energi-energi gaib negatif.
Kehidupan manusia tidak terlepas dari ke gaiban contoh terkdekat dalam diri manusia saja ada dzahir adan batin, dzahari tampak karena jasad dan terlihat oleh mata, akan tetapi batin? Siapa yang dapat melihatnya? Kecuali dirinya sendiri itu pun harus menggunakan rasa. Apalagi di lingkungan luar diri manusia sudah di pastikan banyak yang sosok-sosok makhluk halus yang datang dan tinggal.

DONGENG NU MABOK

Wanci tengah poe ereng-erengan, 2 urang rumaja lalaki tukang mabok, laleumpang bari tingkoloyong siga nu rek sagebrugkeun,,,,.. labuh.!!!!, sejeroning leumpang galecok we ngobrol ngaler ngidul, (ceuk pribasana : da tara aya nu nyebutkeun ngobrol ngetan ngulon..heuhueheu)...keur ngobrol kitu, salah saurang ngareret kaluhur bari mencrong sarangenge (panonpoe),
ceuk:
rumaja nu kahiji : ari itu bulan tah panon poe?" siga panon poenya"
rumaja nu kadua : sia... mah kawas jalma bodo wae, nu kitu mah bulan' lain panonpoe " walon rumaja kadua

Pernak-pernik kajian Kyai Haji Hasan Mustofa

Hasil gambar untuk haji hasan mustapa


Sateuacana ngabeberkeun carita, simkuring nuhun ampun nyaparalun, neda hampura nu diteda, boh bilih aya nu lepat dina carita atawa tulisana, bubuhan kuring jalmi teungarti, lain rek mamatahan hayam nitah ngojay ka meri, bubuhan kuring urang sunda, nu mika cinta kakabudayaan sunda jeung deui hayang apal ka tokoh-tokoh nu aya di tatar sunda.

Ieumah ngansaukur catur nu kapungkur carita nu mangsa bahela ngan dipedar deui mangsa  ayena dina riungan paguyuban Barudak Aqfil, ngeunaan saurang tokoh pujangga sunda, nu geus kaceluk  ka awun-awun, ka koncara ka janatria, ka jamparing angin-angin, nya nu katelah Namina Mama Kyai Haji Hasan Mustofa, khususnamah ngaguar dina dangdingna (pupuh-pupuh) nu pinuh ku silib sindir, sindang siloka, mungguhing anjeunamah di sagedengeun ahli agama kana sastra oge geus masagi.

PARIBAHASA KAHIRUPAN

Dina saban-saban robah mangsa, ganti wanci, ilang bulan,  kurunyung taun, sok mindeng kabandungan manusa sanajan ngalamun salaput umur kahayang patemba-temba karep heunteu reureuh-reureuh, anging kadar pangeran nu bakal karandapan boh hade sumawona goreng, bakal digiring kurung jeung kuring, bakal di bulen saendeng-endeng ngagebleg deui jeung mantena eta oge lamun urangna bisa ngajalankeun hirup jeung huripna, jeung nguda elmu insan kamil mu kamil,(sampurna dina jero sampurna).

Gugupay dina kongkolak mata semu dareuda
Inggis ku diri rempan ku raga dina panglipur rasa
Solendang hariwang nu nyampay matak wekasan
Renghapna amarah nu geus cape nahan harepan

(Buku Judul " Mantar Sajak" , hlm...)

TONG SUSA SISI

Mmangsa carangcang tihang tadi beurang, tempat kuring gawe kadatangan saurang tamu nu ti sejen bagian, ngadon ngajak ngobrol. dina sejeroning obrolan sok di selang ku mangrupa-rupa dongeng nu pika seurieun nepi ka nyeuri kulit beuteung, caritanamah pondok, ngan nu ngadongenkeuna meuni pinter dina olah caritaan atawa peupeuta, beu" asa jadi inget mangsa baheula samemehe sare ku indung kolot oge sok di pangdongengkeun, salah sihijina nu kukuring rek dipeder, mun teu salahmah judulna teh ulah susa sisi,
kieu dongena teh mudahmudahan teu poho dongen ti nini kuring

Dina Hiji poe, mangsa maung bikang jeung anakna, keur sidengdang di hiji walungan (teuing bari kuramas atawa luluran meureun), sabot keur gugujubaran mandi aya peucang nangtung disisi walungan, bari luak liuk da puguh aya maung keur mandi ;

KH HASAN MUSTOFHA ISLAM TI KENCAN

Nyucruk galur nu kapungkur mapaya carita nu baheula, cunduk waktu ninggang kamangsa, ayena kuring jeung kurung seja deudeuheus, amitan kanu marengan, mohokeun kabodoan simkuring pikeun ngaguar nu geus di pedar mangsa kamari, ngeunaan sasaka di kaislaman jeung pupuh HHM, kinanti ngahurun balung. Sok sanajan kuring oge rumasa jadi jalma nu tuna ti pangabisa, ngan kuring ngabogaan sifat sok panasaran (ka asup sombong teu nya?) lepas ti sombong atawa henteu, kuring ngabogaan tekad hayang nepi ka wanoh jeung eta tokoh, jajauheun ari nepi ka ngartimah. mangsa kamari barudak paguyuban ngaguar sasaka di kaIslaman, gumelarna dina rasa ka-islaman nu di bagi ku dua bagian,  ceuk HHM nyaeta: gumelar dina rasa ka Islaman (ti Kenca, Perbawa Iblis), jeung gumelar dina rasa KaIslaman (ti Katuhu, Perbawa Kapangeranan), kulantaran kitu kuring amitan punten pisan sanes bade nyombongkeun sumawona nyanyahoananmah, ieu ngansukur pamadegan kuring, mun bener nya sukur, mun salah wayahna nyuhun dimaklum da ieumah ngansaukur ngira-ngira.

Bisimilah Hirohman Nirohim,
di luhur geus di carita ceuk HHM nyaeta: gumelar dina rasa ka Islaman (ti Kenca, Perbawa Iblis), jeung gumelar dina kaIslam (ti Katuhu, Perbawa Kapangeranan), ayena urang guar Hiji- hiji, urang pedar nu gumelar dina rasa kaIslam (ti Kenca, Perbawa Iblis) heula naon nu di maksud ku anjeuna ngeunan gumelar dina ka Islam (ti Kenca, Perbawa Iblis)?, mun aya nu nanya kuring pasti gampang pisan ngajawabna, "Teu Nyaho" heuh apa kuringmah lain ajeuna, ngan kuring ngabogaan kira-kira: jigana nu dimaksud ku anjeuna,

DI SANGKA HAND PHONE

Dongeng samemeh peureum
Dina hiji poe mangsa kuring indit ka kota, bubuhan hayang nyaho nu ngarana kota, naek beus teh isuk-isuk da hayang meunang diuk di jok nu empuk, ai pek tetep bae kudu nangtung da pinuh ku barudak nu rek mangkat ka sakola. nya kapakasa neangan keur muntang, kebeneran di belah pojokkeun jok tungtung, aya pikeun nyekelan, singketna carita kuring nangtung leungeun kenca muntang kana tihang, pas tukangen aya awewe biwirna ipis mata ceureuleuk, gelenyu manehna imut ka kuring,seblak...eta hate kuring meuni nyeblak... wah meuni bungah pisan' ceuk dalangmah bungah amar wata suta

UNGGAH ADAT

Ieumah carita ngan saukur catur tanpa bukur, ngarah teu katingali nganggur, nyaritakeun salah saurang TKW nu kakara balik ti Arab, sebat wae namina ceu Esih. Punten bilih aya nu kasebat nami sareng tempat (Carita Fiktif) halah fiktif bae da teu apa sunda naon.

Ceu Esih di lembur kuringmah, kaasup bentang desana, geulis kawanti-wanti endah kabina-bina, mun diteuteup tihareup sieup, mun ditingal titukang lenjang, ditilik tigigir leunggik, soca ceureuleuk, pipi kempot, lambet ipis lir kueh lapis, geulis bawa ngajadi, lain geulis pupulasan  (ceuk paribasana). Ceu esih nu kahirupanana teu jauh tikuring, balangsak hirupna eweuh kaboga, kulantaran hayang ngarunjat dina kahirupanna, manehna maksakeun maneh indit ka Arab,ngabelaan cul anak cul salaki, seja ngudag-ngudag dunya kinasihan.

Inditna pasosore, malahan kuring oge milu jajap nepi ka terminal bus jurusan nuka dayeuh,  sajajalan ceu esih ngeluk tungkul dijuru panonna katingal ngerembes cilambaan, hatenamah jumerit maratan langit ngoceak maratan jagat, embung papisah jeung kulawarga, tapi da kahirupan , jeung ekonomi nu misahkeunnana, maksa ceu esih pikeun pisah ti kulawargana. Hirup jeung kahirupan urang kumelendang di alam dunya ieu, keur ngbelaan kulawarga nepi ka suku dijeun hulu, hulu dijieun suku (ceuk paribasana), kitu deui jeung ceu esih kulantaran hayang  ngarujatkeun ekonomi kulawarga nepi kaluas pikeun bubuara ka nagara deungeun, nu teu apal ngulon ngetanna, mangsa ceu esih rek sajungngeun naek ka mobil gede, manehna ngagabrug kanu jadi salaki, bare cirambayan, bari maneh na pok nyarita "kang kade nitip barudak, sing bisa ngagerohna, da puguh budak urang teh keur mejeuhna bayuanneun", Nya nyai keun sing percanten geulis'akang pasti bisa ngajaga anak urang" walon salakina.

TAMIANG MEULIT KA BITIS

"Tamiang meulit kabitis"... salah sahiji cacarekan kolot, cacarekan eta bisa di pake alus atawa goreng, nu artiannamah meureun kawas keu, satiap pepelakan atawa kalakuan urang boh hade boh goreng pasti bakal ka panen deui ku urang.
kadang-kadangmah sok asa ohokkeun mun ningal tingkah polah manusa, ngudag-ngudag hayang bungah bari cicing teh di alam dunya, geus puguh mertela kembang boled dina katerangan oge dunyamah alam fana. ayena hayang bungah di alam dunya da moal bisa isuk-isuk, geus di udag-udag ku kabutuh beurang sumawona...sore sarua keneh.

Ngan sok sanajan kitu  genteng-genteng ulah potong, da kulantaran urangmah sifating jalmi nu ngabogaan akal jeung pikir, ngan ulah sok kalalajoanan, kusabab di dunya ukur saliwat ngan ukur keur melak pikeun peutikeun mangsa di alam padang narawanag, molongpong jalan ka gedong. jalan panjang sasapuan, nu ngaliwat panto maot tea, da atuh apan aya paribasa. kuring jeung kurung bakal di giring. mulih kajatina mulang ka asalna. asal ti pangerang balik deui ge kapangeran...mudah-mudahan eta nu di piharep. (Lampah beunteur ku urang ulah di tiru odoh baranghakan, nejo cacing ngaringkeul di caplok,teu nyahoeun di jerona aya useupan.

ANU TEU ILAHAR

 Karek ge jarempe tas matotoskeun kondangan isukan ka lembur Babakan, geus torojo deui bae uleman teh. Nyakitu tea ari keur usumnamah nu hajat teh sok reundeuy pisan. Pokna, ti mulud ka rewahmah pasti wae matak lieurna teh da bulan-bulan dinya mah keur meujeuhna rame ku nu hajat.
    "Bade nyanggakeun uleman!" ceu hiji jajaka bari ngaluarkeun kartu uleman tina kantong gandongna, song kartu uleman dibikeun ka Bi Karti nu keur nunggu warung sanguna.
  •     "Ti saha jalu?" tanya Bi Karti bari nampanan kartu uleman.
  •     "Ti Pa Dahlan!" walonan pondok
    Saleosna nu mikeun uleman, Bi Karti gawena ngan mulak-malik kartu uleman, Heunteu ari daekeun muka mah ngan kitu wae ukur macaan tulisan nu aya diluarna wungkul.
    "Leuh abong kena nu beunghar..! Ulemanana oge nya badag nya alus. Mana aya gambar panganten deuih" Meureun saanueunmah Hargana oge...!" ceuk Bi Karti bari nelek-nelek gambarna.
    "Cingan..!", Mang Usep salaki Bi Karti nyampeurkeun kawas nu hayangeun nyaho.
    Sabot salakina keur ngilikan sarta maca uleman, Bi Karti pok deui nyarita, samalahan kadengen bet kawas nu mangloh.
    " Ulemanmah bari nage teu kudu alus-alus asal kabaca wae padahalmah...! Baretomah komo cukup ku dipapay dihaturanna wae ka unggal Imahna..!" cenah
  •     "Ari nyaneh nganbabacaan wae Karti....!" Salakina ngelingan.
  •     "Lebar tuda...! Da ari geus dibacamah apan sok langsung dibebeskeun ka jarian..!" Walon Bi Karti teu beakeun hojah.
  •     " Heh ari nyeneh ..! Enya mun ngukur jeung kaayan urangmah hamo moal kabedag. Tapi pikeun pa Dahlanmah leuwih tikieu oge mo burung kabedageun...!" Anjeunamah loba anak buahna Haratismah boa..!"tembal salakina.
  •     "Haratis..!?" Bi Karti rada nyureng katarana can ngartieun keneh.
  •     " Heueuh haratis, alias teu ucul duit saperak-perak acan..! walon salakina
  •     "Ningan..!? Bi Karti tambah nyureng.
  •     "Karti, ari jama gedeanmah, tong boro nyitak uleman, keur waragad hajat sapuratina apan sok pada nangkes ku anak buah. Lain haratis ari nu kitu? ceuk salakina..?" asa pangnyahona pisan.
    Ketang teu salah-salah teuing omongan Mang Usep bieu teh. Sabab ari jalam gedemah dimana boga hajat teh geus teu ripuh neangan timana keur waragadna sasatna sok pada nangkes ku anak buahna. Jaba kitu teh mun nyarambunga oge teu sirikna pakandel-kandel da hayang katangar atawa ngarah kapake. Galagat model kitu teh terus da tarurutan kunu boga jabatan sautak sautik, malah ngatik sok aya nu peupeuleukeuk atawa meres ka anak buah sagala.!

    Tiheula wae basa Kapala Dinas ngawikeun putrana, apan guru-guru SD mah euweuh nu teu gegelendeng deumah gaji kaparotong ngabantuan waragad hajat anjeuna. Onaman, lain anjeuna ari nu motongan gaji gurumah, sabab anjeunamah cukup ku talatah bari ngaharewos ka unggal kapala sakola nu aya dilingkungan kantorna. Nu beunghar tea, tegaan teh sok tara kapalang. Kitumah lain oge hajat, komo kanganran sukuranmah. Naon bedana jeung bisnis, sasatna dagang kejo bari embung ngamodal, make wae ngedok ngawinkeun anak..! Asanamah amit-amit ari ngawinkeun anak nepi kadijeiun objek usaha.

    Heemh..., sakpeungmah sok loba teu kahartina ku jalma kiwari teh. Ari kanu beunghar sok pada marawakeun, mana galede tur karandel deui nyarambungannateh. Tapi ari hajatna ninggang ka jalma leutikmah nyakitu tea, ukur tambah heunteu teuing. Leuheung bari jeung datangmah, da lolobanamah cukup ku nararitip we  geuning. Sok padahal ari jama leutikmah ku didatangan ogr geus bungah kacida. Angot mun seug didatangan ku dunungannamah bungahna alahbatan dibere gunung emas ceuk paribasana.

    Mang Rohim mah nepikeun ka cacaduan. Pokna oge mun isuk jaganing geto boga hajat deui kudu ngahaturanan dunungan teh. Pasalnamah tina awahing ku ngarasa disapirakeun dumeh dununganana teu datng. Hanas diugah-ageh da pangresepna dunungan teh pais gurame, ari pek teu katempo irung-irungna acan, cenah. Puguh we handeuleunnana teh. Lain gelor ku amplopna, tapi ari jelma leutikmah sejat haat tur hormat we cenah, hayang katincak jeung kadahar rejekina.
  •     "Karti, Ningan kieu..? ceuk mang Usep ka pamajikannana.
  •     "Kieu kumaha..!? walon Bi Karti
  •     "Baca geura ku nyaneh..!" walon mang Usep bari nyodorkeun uleman sarta di tompokeun ka pamajikannana.
  •     "Tah baca tulisan nu ieu..!? ceuk mang Usep bari nuduhkeun tulisan nu kudu dibaca ku pamajikannana.
  •     Tuluy ku Bi Karti rada digerendengkeun.
    "Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami menyediakan tempat secara terpisah buat bapak dan ibu. Harr.. Ningan tempatna ge misah..!?" Katar pisan hookeunnana.
  •     "Nu matak...! Mang Usep mairan.
  •     "Ke..Ke..Berarti ulah bareng meureun...! Ceuk Bi Karti
  •     " Ulah Bareng naon ari nyaneh..?
  •     "Sugan...!? sabab ceuk kami mah ari terpisah-pisahmah masing-masing alias kudu misah.    
  •     "Jadi, mangkatna oge kudu misah? ari kitumah amplop oge misah meureun. ceuk Bi karti keneh.
  •     "Jigana ...kieu Karti ...! Amplop nu nyaneh bikieun ka pihak awewena , mun nu kami dibikeu ka pihak lalakina..! Ceuk Mang Usep sarua Telmi na(Telat Mikir)
  •     "Enya Kitu ..!? walon Bi Karti semu cangcaya
  •     "Meureun...!, walon mang Usep pondok
  •     "Meunding tanyakeun heula..,bisi salah..!"
  •     "Wah ni kitu-kitu wae make ditanyakeun! Salah ge moal matak doraka da lain ngaji atawa solat...!? walon Mang Usep.
    "Lain Kitu...!? kamimah ngelingan...!" Ceuk Bi Karti
    Dina waktuna, Bring Mang Usep jeung BI Karti arindit ka tempatna Pa Dahlan. Barang jol teh enya we geus heurin usik ku tamu. Papayon oge alus pisan da ngahaja meunang nyewa ti dayeuh. Tina salon(Speaker) nu ngajungkiring kenca katuhueun papayon teu eureun-eureun ku sora nasidyan tina kaset. Buruan nu sakitu legana di penggel jadi dua make kekeben nu jangkung satangtung. beh kulon awewe beh wetan lalaki tamu awewe diurus ku wanoja nu dibakutet ku jilbab, sedengkeun tamu Lalaki ku lalaki deui.

    "Silahkan ..!" Ceuk budak ngora basa Mang Usep jeung Bi karti daratang. Ngan rek barang asup ka buruan, Nu jaga tamu nyaram Bi Karti sangkan ulah asup beh dinya.
    "Maaf bu ..! Masuknya dari sana..!" Pokna.
    Dasar teu paham tea, dikitukeun teh bring mang Usep jeung Karti muru kana lawang nu hijina deui sakumaha panuduh panitia tea.
Mireungeuh kitu, Pok deui nu jaga tamu teh nyarita.
    " Ibu saja yang kesana, Bapak ke sini..!"
    "Naha...?" Ceuk Bi Karti mimiti ohokeun.
Nu jaga tamu teu nembalan, anggur nyerengeh semu nu kapiasem.

 Tina sela-sela sora salon hawar-hawar aya sora awewe nu ngangkrang, singhoreng tamu nu kakaradatang mangloh.
    "Nyieun pangaturan teh ulah sok ngaleuleuwihan pangeran ujang...!ceuk pangerang oge kangaran salki jeung pamajikanmah tong boro dieuk bareng najan ngadedempes di jero kamar duaan oge halal lain..?komo ieu ngan ukur dieuk bari dinu loba batur!  Asana teh bet kacida teuing..!! Ceuk manehna bari jamotrot.
    Pamajikannan ngutruk teh salakinamah ngan ukur keom sabab hatena mah ngabenerkeun kana omongan pamajikanana ngan teu pipiluen teh kurang meurenah we meureun.
    Nu kitu tea mah pa Dahlan ngatik nyieun pangaturan kitu patut! padahal lain kakara hajat ngawinkeun teh, da mun teu salahmah geus ka tilu kalina, tapi naha bet beda tinu engeus-enggeus..!? Mun minantuna ka urang arab onaman meujeuhna we rek kikituan teh, apan minantuna teh sunda asli,. Dina enyana oge mun meunangkeun urang arab, asana teh teu kudu aaraban kitu, pake we kabiasaan atawa tradisi anu ilahar di urang.
    Di rohangan lalaki estuning simpe ngan nu kadengen paketrokna sendok jeung piring, aya nu keur udud sewang-sewangan. Beda jeung di rohangan awewe kadengena teh asa gengsor, Ngan Orokaya, didenge-denge teh jiga nu keur ngarobrolkeun nu boga hajat,

    Komo bu Haji jengkel neupi ka ngomong pok-pokannana ngobrol jeung nu gigireunna     "Geura we tingali..! Ma enya ari urang nu laki rabi geus mang taun-taun geus reuay ku anak teu meunang diuk bareng jeung salaki, ari itu panganten geuning bet direndengkeun ..!? Padahal maranehnamah kawin ge kakarek poe ieu! Mun pangantenan nu kakarek kawin meunang ngarendeng, komo urang nu geus mang taun-taun..!?
  •     "Padahalmah tos wae nu ilahar di urang wae nya Bu Haji...?ceuk nu gigireunna mairan
  •     "Nyeta..., pakarepan saha atuh ieu teh..? Da basa ngawinkeun nu ti heula-heulamah asa heunteu kieu...! walon Bu Haji.
  •     "Jiganamah kapalay pihak pameget..! ceuk nu sejena deui milu mairan
  •     "Enya jiganamh..!
  •     "Benten aliran panginten Bu haji..." ceuk nu saurang Deui.
  •     "Aliran nanahaon...? Bu Haji malik nanya
  •     "Ka..Teuing.., Pedah we ningal panitiana ngarangge acuk Arab jeung totopong Haji!"
    Nu keur gunterng ngaromong ngadadak eureun alatan kapegat ku ayana pangumuman ti panitia ngeunaan budak leungit. Bareng jeung kitu, di sisi pasamoan aya nu keur silih tunjuk, singhoreng indung bapana budak nu leungit, ceuk bapana, budak nereleng ka indungna, ari ceuk indungna ti tadi oge milu jeung bapana, cenah. Ngadenge pangumuman budak leungit, sakabeh tatamu teu sirikna ting raringeuh, kitu deui panitia katempona teh kawas nu milu sibuk nareangan.
    "Tuh nya, apan pimatakeun,! Coba lamun bapana sina bareng jeung indungna mah moal keu kajadiannana..! Ieu teh akibat papisah diuk, antukna bapana jeung indungna silih tuding, jadi wae pasea di nu hajatan..! ceuk ibu nu make tiung beureum neuteuli.
    "Ari Pak Dahlan, ku tara parok jeung batur ..! Hajat-hajat wae ngatik loba pamolah ...! nu sejena milu mairan...!

LALAMPAHAN KAHIRUPAN

Remis janari mimiti turun, nandakeun mangsa nu geus ngagayuh kana janari gede nu bakal disususl ku janari gede antukna jleg neupi ka poe isuk. Sanjan wanci geus janari leutik kuring acan keneh bisa sare aki jeung nini petunduheun jiga nu embung ngadeketan kuring gerentes hate manehna, geleberna jeung sorana manuk koreak  jiga nu keur nitennan pagawean nu keur dipigawena, ret kana pagawean nu euweuh beresna ret deui kana jam nu nalapok handapeun meja. Gerendeng manehna ngageretes “ beu…hirup..) ngan sakitu nu di gerenteskeun na hatena.

Clo..!! pagawean ditunda pikiran manehna kumalayang rus-ras kaditu kadieu, beleyeh seuri, jiga nu keur ngalayang ka mangsa manehna meunang kabungah..ngegerentes deui “asa kunikmatnya mun hirup jiga kitu diteruskeun..nganhanjakal…”. beu kawas nu moal manggihan modar wae  ceuk gerentes manehna keneh ninggang sadar”.  Tapi sok sanjan kitu oge piraku hirup teh leumpeng wae, mun kitumah ngalanggar kodrat apan bener jeung salah geus diciptakeun pikeun pakeana manusa ngagerentes deui dina hate nu kapangaruhan ku nafsuna.

HIRUP JEUNG KAHIRUPAN

éling- éling mangka éling
Rumingkang di bumi alam
Darma wawayangan baé Raga taya pangawasa
Seni sunda pikeun suluk gambaran siloka diri
Hirup ulah rék ka jongjonan mawa diri sing taliti
Satincak maké pikiran, pikiran ieu pépéling

Nyucruk galur ti Karuhun nutur lacak para wali nu nyambung ka balarea. Kalimah di luhur salah sahiji pepeling pikeun urang nu ku melendang di alam marcapada, ngeunaan hirup jeung kahirupan nu geus dilakonan, jeung nu eukeur di lakonan sarta nu bakal kalakonan, hirup, hurip jeung hirupna urang nu kumelendang, kabeh oge balik deui ka urang mun ceuk salaha sahiji paribasa mah“Tamiang Meulit Kabitis” . Kulantaran hirup teh lir ibarat tamiang meulit kabitis jadi hirup urang oge kudu nete taraje nicak hambalan, nyukcruk walungan, mapay wahangan, nu kaditunamah malapah gedang,  sok bisik melengkung bekas nyalahan, kulantaran sagal rupa nu di lakukeun ku urang balik deui ka urang, boh dina ka alusan atawa dina kagorengan.

Kulantantaran sagala rupa balik deui ka urang kahirupan urang teu bisa leupas tina nu disebut hukum Karma nu geus ilahar ku urang dipake. Hukum karma didieu dina lalampaha atawa anu dilakukeun ku urang, sagala nu dilakukeun, ka alusan jeung kagorengan sakabehna balik deui ka urang masing-masing. Da pamarentah moal nga hukum komo pangeran, da nu ngahukumna dirimah lintang ti kalakuan diri sorangan. Melak hade buah hade, kitu deui melak goreng buahna oge goreng.

MELIHAT ALAM GAIB


Langkah pertama pejamkan mata dan pusatkanlah pikiran pada satu titik antara kedua mata.
Tawasul ke Nabi, malaikat, guru-guru
Serahkan diri pada Allah tenangkan batin seraya mengucapkan doa ini sebanyak 41 kali dalam hati : “Allahumma antas salam, qadia hajjadi, Ghoibbusirri masya’allah, La haula wala quwata illa billah
Bagi pemula atau pertama kali menjalani melihat alam gaib ini, setelah melafalkan Asma Aj-Mal mungkin tidak akan mengalami apa-apa. Akan tetapi yang sudah berlatih dan terus beberapa kali dengan niat yang sungguh-sungguh, setelah membaca Asma Aj-mal, mereka akan melihat secercah sinar putih yang kian membesar dan membesar. Sinar tersebut akan menarik roh diri untuk masuk ke dalamnya. Seketika itu kita akan masuk ke alam gaib. Atau kalau bukan sinar ada tirai yang ketika mendekat tirai itu akan terbuka sendiri, terus akan ada tirai tergantung
Bila sudah memasuki alam gaib ini, tenangkan pikiran, janganlah takut saat melihat sesuatu bisa wujud atau suara saja dari mahluk di alam yang kita datangi. Mungkin akan melihat manusia-manusia aneh berwujud yang macam-macam seperti genderuwo, ular, ataupun lainnya. Tetapkan hati dan kuatkan batin. Diniatkan hanya untuk melihat kekuasan Allah dengan tujuan mempertebal keimanan kepada Allah yang menciptakan semua mahluk yang ada di langit dan di bumi.

Jumat, 13 Juli 2018

BIOGRAFI SYAHUNAL MUKAROM SAYYID UMAR


Biografi singkat Sayid Umar Bin Ismail Bin Yahya
Sayid Umar merupakan keturunan Rasulullah Saw. ke-36. Beliau adalah marga Yahya. Silsilahnya dari Sayyid Umar bin Isma’il bin Ahmad bin Syaikh bin Thaha bin Masyikh bin Ahmad bin Idrus bin Abdullah bin Muhammad bin Alawi bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Ali Muhammad Shahib al-Mirbath  bin Ali Khali Qasim bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir Ilallah bin Isa an-Naqib bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Aridh bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir  bin Ali Zain al-Abidin bin Husain bin Fathimah az-Zahra binti Muhammad Rasulullah Saw.
Habib Umar merupakan keturunan Alawiyah yang lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal 1298 H. bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1888 M. Tempat lahir Arjawinangun Cirebon (± 25 KM ke arah Barat Laut kota Cirebon). Sejak usia remaja, beliau mengembara menuntut ilmu dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain.
Beliau mendapat Pendidikan agama langsung dari ayahnya sendiri, kemudian beliau mengembara ke berbagai pesantren di Jawa Barat, dari tahun 1913 hingga 1921.
Sayyid Umar sempet mondok di pesantren Ciwedus Cilimus Kuningan Jawa Barat yang diasuh oleh KH. Ahmad Shobari. Menurut cerita KH. Ahmad Shobari merupakan orang yang pertama kali bai’at tarekat kepada beliau, padahal usia Sayid Umar di kala itu masih relatif muda. Dari Ciwedus, beliau bertemu dengan KH. Abdul Halim, seorang kyai muda dari Majalengka Jawa Barat yang juga pernah menjadi murid KH. Ahmad Shobari.
Dua tahun kemudian beliau pindah ke pondok pesantren Bobos Palimanan Cirebon yang dipimpin oleh Kyai Sujak. Pada tahun 1916 beliau pindah lagi ke pondok pesantren Buntet Astanajapura Cirebon Jawa Barat yang diasuh oleh KH. Abbas. Kemudian setelah satu tahun di sana, beliau pergi ke pondok pesantren Majalengka yang diasuh oleh KH. Anwar dan KH. Abdul Halim. Di pondok pesantren Majalengka ini, Sayid Umar menimba ilmu selama lima tahun. Tahun keenam Sayid Umar diangkat sebagai tenaga pengajar tetap di madrasah yang didirikan oleh KH. Abdul Halim. Di sini beliau seringkali terlibat dalam diskusi dengan para tokoh di pesantren maupun para tokoh yang berada di persyarikatan ulama sehingga nama beliau cepat terkenal.
Kampung Arjawinangun saat itu, yang merupakan tanah kelahiranya tenggelam dalam kebiasaan berjudi dan perbuatan dosa besar lainnya, Habib Umar merasa dirinya terpanggil untuk memperbaiki masyarakat tersebut. Dalam sebuah mimpi, ia bertemu Syarif Hidayatullah yang umum menyebutnya Sunan Gunung Jati, yang memberinya restu untuk niat baiknya tersebut. Selain itu Syarif Hidayatullah juga mengajarkan hakikat kalimat Syahadat kepadanya. Maka, setiap malam Jum’at Habib Umar pun menggelar pengajian di rumahnya.
Tapi upaya itu mendapat perlawanan serius dari masyarakat. Mereka mencemooh, menghina, dan mencibir pengajian Habib Umar. Dibawah tekanan masyarakat itu, ia terus berjalan dengan dakwahnya itu. Pada saat itu pengajiannya dianggap meresahkan masyarakat, sehingga sampai-sampai beliau dtangkap oleh pemerintah kolonial dan di jebloskan ke dalam penjara. Namun, tiga bulan kemudian ia dibebaskan, berkat perlawanan yang diberikan oleh jama’ahnya hingga jatuh korban di kalangan antek-antek Belanda.
Tahun 1940, Habib Umar menyediakan rumahnya sebagai markas perjuangan melawan pemerintah kolonial Belanda. Tidak hanya itu, ia juga turun tangan dengan mengajarkan ilmu kanuragan kepada kaum muda.
kali keduanya pada bulan Agustus 1940 ia ditangkap kembali oleh Belanda dan pengajiannya ditutup, akan tetapi tidak lama kemudian kemudian enam bulan, tepatnya tanggal 20 Februari 1941, ia dibebaskan.
Setelah dua di penjarakan bukannya kapok malah semakin semangat untuk melawan kolonialisme dan semakin membara dalam dada Habib Umar. Maka ia pun banyak mengadakan kontak dengan tokoh-tokoh agama di seputar Cirebon, seperti Kiai Ahmad Sujak (Bobos), Kiai Abdul Halim (Majalengka), Kiai Syamsuri (Wanantara), Kiai Mustafa (Kanggraksan), Kiai Kriyan (Munjul).
Tidak Hanya pada masa penjajahan Belanda saja, bileu juga berjuanga pada zaman Jepang sehingga nama Habib Umar melejit dan harum sebagai pejuang negara di samping pejuang agama. Ia memperkarakan Undang-Undang yang dikeluarkan Jepang yang melarang pengajaran huruf Arab di Masyarakat. UU itu dianggap sebagai alat agar umat islam meninggalkan Al-Quran.
Panji-Panji Syahadatain

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...